Minggu, 18 Oktober 2026
spot_img
BerandaFashionPerguruan TinggiKemdiktisaintek Jajaki Riset Batang Sawit dan Beasiswa Australia untuk 20–25 Mahasiswa

Kemdiktisaintek Jajaki Riset Batang Sawit dan Beasiswa Australia untuk 20–25 Mahasiswa

spot_img

Foto: Kemdiktisaintek

KORAN EDUKASI — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menjajaki kerja sama dengan Australia untuk mengembangkan riset pemanfaatan batang kelapa sawit sekaligus membuka peluang beasiswa sarjana bagi mahasiswa Indonesia. Pembicaraan itu berlangsung dalam pertemuan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto dengan Duta Besar Republik Indonesia untuk Australia dan Vanuatu Siswo Pramono di Jakarta, Selasa (13/10/2026).

Riset yang dibahas berfokus pada pengolahan biomassa batang sawit menjadi produk bernilai tambah. Salah satu kemungkinan yang disebut adalah produksi etanol sebagai sumber energi alternatif. Namun, kementerian menegaskan bahwa rencana tersebut masih berada pada tahap penjajakan dan harus melewati kajian kelayakan teknis serta ekonomi.

Pilot riset menunggu hasil kajian

Brian Yuliarto mengatakan pengembangan tahap percontohan baru dapat dilakukan apabila hasil kajian menunjukkan teknologi dan model ekonominya layak. Dengan demikian, pertemuan ini belum menghasilkan keputusan pelaksanaan proyek maupun penetapan lokasi uji coba.

“Kalau memang nanti bisa, segera kita laksanakan pilot-nya dan sebagainya. Tentu ini kita akan sangat senang bisa kita follow up,” ujar Brian Yuliarto.

Pemanfaatan batang sawit menjadi penting karena material tersebut tersedia dalam jumlah besar saat kebun memasuki masa peremajaan. Penelitian yang tepat dapat mengubah residu perkebunan menjadi bahan baku baru, tetapi dampak lingkungan, biaya proses, dan kemampuan produksi tetap perlu diuji sebelum diterapkan lebih luas.

Penjajakan ini melengkapi agenda pemerintah untuk mempertemukan perguruan tinggi dengan kebutuhan industri dan kebijakan publik. Sebelumnya, Koran Edukasi juga mencatat dorongan agar riset hidrogen alami Indonesia terhubung dengan regulasi dan pembiayaan.

Peluang beasiswa belum dibuka

Selain riset biomassa, pertemuan membahas kemungkinan program beasiswa sarjana bagi sekitar 20–25 mahasiswa Indonesia di Australia. Jumlah tersebut masih berupa gambaran awal dalam pembicaraan, bukan kuota resmi yang sudah dapat didaftarkan.

Belum ada informasi mengenai perguruan tinggi tujuan, bidang studi, persyaratan, jadwal seleksi, maupun skema pembiayaan. Calon mahasiswa karena itu perlu menunggu pengumuman resmi sebelum menyiapkan pendaftaran dan tidak menganggap penjajakan tersebut sebagai program yang telah dibuka.

Jika ditindaklanjuti, kerja sama pendidikan dan riset ini dapat menghubungkan pengembangan talenta dengan proyek ilmiah yang relevan bagi kebutuhan Indonesia. Tahap berikutnya tetap bergantung pada kesepakatan antarpihak serta hasil kajian kelayakan yang disebut dalam pertemuan.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Koran Edukasi

spot_img