Pelatihan Program PINTAR bagi guru dan kepala sekolah Muhammadiyah di Kuantan Singingi. Kredit foto: ANTARA/HO-Tanoto Foundation.
KORAN EDUKASI — Sebanyak 100 guru dan kepala sekolah Muhammadiyah di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, mengikuti pelatihan untuk memperkuat literasi, numerasi, pembelajaran aktif, dan manajemen berbasis sekolah. Kegiatan adopsi Program PINTAR berlangsung pada 11–12 September 2026 dan diberitakan Jumat, 18 September 2026.
Pelatihan disusun setelah analisis Rapor Pendidikan 2025 pada 14 sekolah Muhammadiyah di daerah tersebut. Rata-rata capaian literasi, numerasi, kualitas pembelajaran, dan kepemimpinan instruksional disebut masih berada pada kategori sedang.
Dari data sekolah menuju perubahan di kelas
Rapor Pendidikan dapat membantu sekolah mengenali area yang membutuhkan perbaikan, tetapi data baru bermakna ketika diterjemahkan menjadi tindakan. Guru perlu menentukan kemampuan mana yang belum dikuasai murid, memilih strategi belajar, lalu memeriksa perubahan melalui asesmen berkala.
Materi pelatihan mencakup pembelajaran aktif dengan pendekatan MIKiR—mengalami, interaksi, komunikasi, dan refleksi—serta manajemen sekolah dan partisipasi masyarakat. Pendekatan itu menempatkan murid sebagai pelaku belajar, bukan hanya penerima penjelasan.
Literasi tidak terbatas pada membaca lancar, melainkan kemampuan memahami, menilai, dan menggunakan informasi. Numerasi juga bukan sekadar mengerjakan operasi hitung, tetapi memakai konsep matematika untuk memecahkan masalah sehari-hari.
Tindak lanjut menentukan hasil pelatihan
Pelatihan dua hari belum cukup untuk memastikan perubahan. Sekolah memerlukan pendampingan, observasi kelas, forum berbagi antarguru, dan dukungan kepala sekolah agar strategi baru konsisten diterapkan.
Tanoto Foundation menyatakan Program PINTAR telah bekerja dengan lebih dari 1.500 sekolah di 69 kabupaten dan kota. Angka tersebut merupakan keterangan organisasi dan tidak dengan sendirinya menunjukkan tingkat dampak yang sama di setiap sekolah.
Ukuran keberhasilan yang relevan
Keberhasilan dapat dilihat dari kualitas tugas yang diberikan guru, keterlibatan murid dalam diskusi, kemampuan menjelaskan alasan, serta perkembangan hasil asesmen. Sekolah juga perlu memantau murid yang tertinggal agar penguatan literasi dan numerasi tidak memperlebar kesenjangan.
Gerakan literasi memerlukan partisipasi sekolah, keluarga, dan masyarakat. Konteks serupa dapat dibaca dalam laporan Koran Edukasi mengenai penguatan literasi di Nusa Tenggara Timur.




