Minggu, 18 Oktober 2026
spot_img
BerandaEdu News48 Guru SMK Tuntaskan Pelatihan Tata Boga Indonesia–Prancis, Siap Menularkan Kompetensi ke...

48 Guru SMK Tuntaskan Pelatihan Tata Boga Indonesia–Prancis, Siap Menularkan Kompetensi ke Murid

spot_img

Foto: Ditjen Dikmen Diksus Kemendikdasmen

KORAN EDUKASI — Sebanyak 48 guru sekolah menengah kejuruan dari 43 sekolah di 10 provinsi menuntaskan program French Indonesia Training of Trainers (FITT) in Pastry and Cookery 2026. Pelatihan berlangsung selama hampir tiga minggu, 28 September–16 Oktober 2026, dengan fokus pada pastry dan cookery.

Program kerja sama Indonesia dan Prancis itu dirancang untuk meningkatkan kompetensi pendidik bidang kuliner melalui pembelajaran intensif, praktik, demonstrasi, serta pendampingan langsung dari chef dan instruktur Institute Disciples Escoffier Prancis.

Peserta terbagi merata menjadi 24 guru bidang cookery dan 24 guru bidang pastry. Setelah pelatihan, mereka diproyeksikan menjadi instruktur yang meneruskan keterampilan kepada murid dan rekan sejawat di sekolah masing-masing.

Guru menjadi penghubung sekolah dan industri

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Tatang Muttaqin menilai peningkatan kapasitas guru penting karena pendidik menjadi penghubung antara pembelajaran di kelas dan standar keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja.

“Pelatihan ini memang telah usai, namun langkah dan perjuangan Bapak dan Ibu sekalian justru baru dimulai,” ujar Tatang Muttaqin.

Kemendikdasmen menyatakan kompetensi yang diperoleh perlu diterapkan dalam pembelajaran agar lulusan SMK memiliki keterampilan relevan. Sasaran tersebut masih berupa harapan program; hasilnya perlu dinilai melalui penerapan materi, perkembangan kemampuan murid, dan keterhubungan sekolah dengan industri.

Pelatihan memasuki edisi ketiga

Program FITT telah berjalan sejak 2023. Wakil Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN Fabrice Fize menyebut edisi ketiga ini memperlihatkan kesinambungan kerja sama dalam pengembangan kompetensi guru gastronomi.

Sertifikat yang diterima peserta menjadi pengakuan atas proses belajar selama pelatihan, tetapi transfer kompetensi di sekolah merupakan tahap lanjutan yang menentukan. Guru perlu menyesuaikan teknik yang dipelajari dengan fasilitas, bahan, kurikulum, serta kebutuhan murid di daerah masing-masing.

Kerja sama juga melibatkan Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bisnis dan Pariwisata, Institut Français d’Indonésie, dan Grup Accor. Keterlibatan banyak pihak membuka peluang memperkuat pengembangan kompetensi guru dengan praktik yang dekat dengan kebutuhan lapangan.

Untuk pendidikan vokasi, ukuran keberhasilan program tidak berhenti pada jumlah peserta. Dampak yang lebih penting ialah seberapa jauh guru mampu mengubah materi pelatihan menjadi pembelajaran terstruktur, aman, dan dapat diakses murid, serta membangun kesinambungan antara kompetensi sekolah dan kebutuhan industri kuliner.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Koran Edukasi

spot_img