Foto: Humas Kemdiktisaintek
KORAN EDUKASI — Guru Besar Seni Institut Seni Indonesia Surakarta Eko Supriyanto memperkenalkan metode 3R—revisiting, re-questioning, dan re-interpreting—sebagai pendekatan untuk memperkuat penciptaan karya seni berbasis riset. Metode itu mendorong pengkarya mengunjungi, mempertanyakan, dan menafsirkan kembali tradisi agar tetap relevan.
Eko menilai karya seni di lingkungan perguruan tinggi perlu memiliki landasan pemikiran, data, dan kontribusi pengetahuan yang dapat dijelaskan. Penciptaan tidak cukup berhenti pada pertunjukan atau bentuk akhir, tetapi harus menyertakan rekam proses yang dapat ditelusuri.
Menurutnya, pengkarya perlu memeriksa informasi, mengumpulkan fakta, dan mencari perspektif baru sebelum menentukan keputusan artistik. Dengan cara itu, karya tidak hanya bertumpu pada asumsi atau pengulangan bentuk tradisi.
Dokumentasi menjadi bagian dari pengetahuan
“Seorang akademisi ataupun seorang seniman harus melakukan riset, harus meneliti dahulu,” ujar Eko Supriyanto.
Dokumentasi yang dimaksud mencakup catatan riset, rekaman pertunjukan, tulisan reflektif, pengamatan, percobaan, dan penjelasan tentang alasan di balik keputusan artistik. Bahan tersebut membantu karya diperiksa, dipelajari, dan dikembangkan oleh mahasiswa maupun peneliti lain.
Eko mencontohkan karya IbuIbu Belu yang berangkat dari riset sekitar satu setengah tahun tentang perempuan, tenun, busana, serta kehidupan di perbatasan Indonesia–Timor-Leste. Contoh lain menghubungkan penciptaan seni dengan penelitian kerusakan terumbu karang di Halmahera Barat melalui kolaborasi bersama peneliti oseanografi.
Seni dipertemukan dengan sains
Pendekatan lintas disiplin itu menempatkan seni sebagai bagian dari pengembangan pengetahuan. Eko mendorong penguatan STEAM—sains, teknologi, rekayasa, seni, dan matematika—agar kemajuan teknologi tetap mempertimbangkan pengalaman manusia, lingkungan, dan kebudayaan.
Di perguruan tinggi, penguatan narasi dan kebaruan juga berkaitan dengan pengakuan akademik. Karya yang terdokumentasi dapat digunakan untuk menjelaskan kontribusi pengkarya, melindungi hak cipta, dan membuka penelitian lanjutan.
Gagasan ini memperluas percakapan tentang peran kampus dalam riset dan inovasi. Riset seni memiliki bentuk dan metode yang berbeda dari laboratorium, tetapi tetap memerlukan pertanyaan yang jelas, bukti proses, refleksi, serta pertanggungjawaban gagasan.
Bagi mahasiswa seni, metode 3R menawarkan kerangka untuk membaca tradisi secara kritis tanpa memutus hubungan dengannya. Hasil yang diharapkan bukan sekadar karya baru, melainkan pengetahuan yang dapat diwariskan, diuji, dan ditempatkan dalam percakapan akademik serta kebutuhan masyarakat.




