Foto: detikEdu
KORAN EDUKASI — Sebanyak 1.500 pelajar tingkat sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas mengikuti kompetisi olahraga tradisional di Jakarta International Velodrome, Rawamangun, Jakarta Timur, Minggu, 4 Oktober 2026.
Kompetisi menjadi bagian dari Festival Olahraga Rakyat 2026 yang diselenggarakan Dinas Pemuda dan Olahraga DKI Jakarta bersama Persatuan Olahraga Tradisional Indonesia DKI Jakarta. Peserta berasal dari berbagai sekolah di wilayah ibu kota.
Cabang yang diperlombakan meliputi lari balok, egrang, terompah pendek dan panjang, sumpitan, serta bola gebok. Ragam permainan menuntut keseimbangan, koordinasi, ketepatan, dan kerja sama, bergantung pada karakter masing-masing cabang.
Pelestarian melalui pengalaman langsung
Kompetisi memberi ruang bagi pelajar untuk mengenal permainan tradisional melalui praktik. Pendekatan ini berbeda dari pengenalan yang hanya mengandalkan penjelasan di kelas karena peserta harus memahami aturan, menggunakan peralatan, dan berinteraksi dengan anggota tim maupun lawan.
Festival juga menghubungkan aktivitas fisik dengan pelestarian budaya. Permainan yang berkembang di masyarakat dapat tetap dikenali generasi muda ketika tersedia ruang berlatih, pendamping, dan kegiatan yang berlangsung secara teratur.
Meski demikian, satu kompetisi belum cukup untuk memastikan keberlanjutan olahraga tradisional. Sekolah dan komunitas memerlukan akses terhadap peralatan, panduan keselamatan, serta kesempatan bermain di luar agenda perlombaan.
Ruang belajar di luar kelas
Kegiatan yang melibatkan tiga jenjang sekolah memungkinkan olahraga tradisional dikenalkan sesuai usia peserta. Aturan, tingkat kesulitan, dan aspek keselamatan perlu disesuaikan agar kompetisi tetap mendidik dan tidak semata mengejar kemenangan.
Bagi sekolah, permainan tradisional dapat ditempatkan sebagai bagian dari pendidikan jasmani, kegiatan ekstrakurikuler, atau proyek kebudayaan. Nilai kerja sama, disiplin, dan sportivitas muncul dari pengalaman bermain, tetapi tetap membutuhkan pendampingan agar dipahami murid.
Pembelajaran melalui pengalaman langsung juga terlihat dalam program belajar siswa Labschool Jakarta di Kampung Banceuy. Keduanya menunjukkan bahwa ruang pendidikan dapat diperluas ke lingkungan sosial, budaya, dan kegiatan fisik selama tujuan belajarnya dirancang dengan jelas.




