Minggu, 18 Oktober 2026
spot_img
BerandaEdu NewsRiset Hidrogen Alami Indonesia Didorong Terhubung dengan Regulasi dan Pembiayaan

Riset Hidrogen Alami Indonesia Didorong Terhubung dengan Regulasi dan Pembiayaan

spot_img

Foto: Kemdiktisaintek

KORAN EDUKASI — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong riset hidrogen alami Indonesia tidak berhenti pada pemetaan potensi. Penelitian perlu dihubungkan dengan regulasi, pembiayaan, dan kebutuhan industri agar temuan ilmiah dapat berkembang menuju pemanfaatan yang terukur.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menyampaikan arah itu dalam Hydrogen Day 2026 di Institut Teknologi Bandung (ITB), Minggu, 11 Oktober 2026. Forum tersebut mempertemukan pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, serta industri untuk membahas teknologi hidrogen bagi sektor energi dan transportasi.

Menurut Stella Christie, Indonesia memiliki peluang pada hidrogen alami karena sumber dayanya tersedia dan calon pasarnya dapat diidentifikasi. Namun, potensi itu masih harus diuji melalui penelitian yang kuat sebelum menjadi dasar keputusan investasi atau kebijakan.

Potensi Sulawesi Tengah Masih Perlu Dikaji

Sulawesi Tengah menjadi salah satu wilayah yang sedang mendapat perhatian. Penjajakan dilakukan melalui kolaborasi Pertamina Hulu Energi, kalangan akademik, dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Tahap berikutnya mencakup pengambilan sampel bawah permukaan untuk memahami karakter sumber daya secara lebih mendalam.

“Waktunya itu sekarang. Kalau kita tidak melakukannya sekarang untuk hidrogen alami, ini kita akan lama,” ujar Stella Christie. Pernyataan tersebut menekankan urgensi riset, tetapi belum berarti potensi yang dikaji telah terbukti layak secara teknis maupun ekonomis.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Eniya Listiani Dewi menyebut identifikasi hidrogen hijau juga telah berlangsung. Pemerintah dan pelaku sektor energi masih perlu menilai lokasi, kapasitas, serta skema pemanfaatan sebelum pengembangannya diperluas.

Kampus Masuk dalam Ekosistem Inovasi

Dari sisi pendidikan tinggi, ITB menempatkan kampus dan lembaga riset sebagai penyedia pengetahuan serta inovasi, sementara pemerintah berperan menyiapkan kerangka regulasi dan industri menggerakkan penerapan. Pembagian peran itu penting karena teknologi energi baru membutuhkan pengujian panjang, modal besar, dan kepastian penggunaan.

Langkah tersebut sejalan dengan dorongan Kemdiktisaintek agar perguruan tinggi menyiapkan talenta energi terbarukan berdasarkan kebutuhan nyata sektor industri. Dengan demikian, agenda riset tidak hanya membangun pengetahuan, tetapi juga menyiapkan peneliti dan tenaga ahli yang memahami tantangan implementasi.

Kemdiktisaintek menilai kolaborasi lintas lembaga diperlukan agar kajian hidrogen tetap berbasis bukti. Regulasi dan pembiayaan dapat mengikuti ketika data ilmiah telah memadai, sehingga pengembangan teknologi tidak melampaui tingkat kepastian yang tersedia.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Koran Edukasi

spot_img