Minggu, 18 Oktober 2026
spot_img
BerandaEdu MasyarakatBanyumas Usulkan Budi Pekerti Jadi Muatan Lokal, Keteladanan Guru dan Orang Tua...

Banyumas Usulkan Budi Pekerti Jadi Muatan Lokal, Keteladanan Guru dan Orang Tua Ditekankan

spot_img

Foto: ANTARA/Sumarwoto

KORAN EDUKASI — Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mengusulkan pendidikan budi pekerti menjadi muatan lokal di sekolah-sekolah wilayahnya, termasuk Sekolah Nasional Terintegrasi dan Sekolah Rakyat. Usulan itu diarahkan untuk memperkuat solidaritas, kemanusiaan, penghormatan kepada guru, dan kepedulian terhadap sesama.

Sadewo Tri Lastiono menyampaikan gagasan tersebut dalam Gelar Griya Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) 2 Banyumas di Gedung Gurinda Sarwa Mandala, Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Sabtu, 17 Oktober 2026.

“Yang saya inginkan ada muatan lokal, salah satunya pelajaran budi pekerti,” ujar Sadewo Tri Lastiono.

Pembentukan Karakter Membutuhkan Keteladanan

Menurut Sadewo Tri Lastiono, pendidikan budi pekerti perlu melengkapi pendidikan agama dalam membentuk sikap dan perilaku peserta didik. Ia menilai penghormatan kepada guru dan kepedulian terhadap orang lain perlu kembali diperkuat.

Pembentukan karakter tidak cukup melalui penyampaian materi di kelas. Keteladanan guru, dukungan orang tua, dan lingkungan sekolah yang membiasakan sikap saling menghargai menjadi bagian penting agar nilai tidak berhenti sebagai pengetahuan.

Karena masih berupa usulan, penerapan budi pekerti sebagai muatan lokal memerlukan perumusan tujuan, materi, metode belajar, dan cara evaluasi. Sekolah juga perlu menghindari penilaian karakter yang hanya berbentuk angka tanpa mengamati perubahan perilaku dalam keseharian.

Fasilitas SNT Direncanakan di Lahan 20 Hektare

Pemerintah Kabupaten Banyumas juga merencanakan pembangunan fasilitas SNT pada lahan sekitar 20 hektare. Pembangunan disebut akan dimulai pada November 2026, tetapi hingga keterangan disampaikan prosesnya masih dalam koordinasi dengan kementerian terkait.

Fasilitas tersebut diharapkan tidak hanya dimanfaatkan siswa SNT, melainkan juga mendukung kegiatan pendidikan sekolah lain sesuai kebutuhan. Rincian anggaran, kapasitas, tahapan pembangunan, dan mekanisme pemanfaatan bersama belum diumumkan.

Dalam gelar griya, siswa menampilkan berbagai karya, termasuk robot dan permainan tradisional. Perpaduan teknologi dan budaya menunjukkan pendidikan karakter dapat hadir melalui proyek, kerja kelompok, disiplin, serta pengalaman menghargai hasil karya orang lain.

Pendekatan berbasis pengalaman juga terlihat dalam praktik angklung sebagai media belajar kerukunan anak. Nilai budi pekerti menjadi lebih bermakna ketika diterapkan dalam interaksi nyata, bukan sekadar dihafalkan.

Keberhasilan usulan Banyumas nantinya perlu dinilai dari konsistensi keteladanan, iklim sekolah, keterlibatan keluarga, dan perubahan perilaku siswa. Penyusunan muatan lokal menjadi langkah awal, sedangkan praktik sehari-hari menentukan apakah nilai tersebut benar-benar hidup di lingkungan pendidikan.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Koran Edukasi

spot_img