Foto: Dok. Istimewa/Media Indonesia
KORAN EDUKASI — Sebanyak 12 perguruan tinggi menyatakan komitmen menyediakan 2.792 beasiswa bagi kader pemberdayaan masyarakat desa pada tahun akademik 2027. Komitmen itu menjadi bagian dari penguatan peran kampus dalam pendampingan desa dan kelurahan prioritas untuk pengentasan kemiskinan.
Kesepakatan mengemuka dalam Rapat Koordinasi Nasional Forum Perguruan Tinggi dalam Pemberdayaan Masyarakat di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah, Kamis, 15 Oktober 2026. Kegiatan dibuka Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar.
Kampus diarahkan mendampingi desa secara berkelanjutan
Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat meminta perguruan tinggi menghubungkan riset, inovasi, dan pengabdian masyarakat dengan persoalan nyata di desa. Pendampingan diharapkan tidak berhenti pada kegiatan sesaat, melainkan memiliki rencana, indikator, dan evaluasi berkala.
Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Haris mengatakan desa harus menjadi subjek pembangunan. “Dengan demikian, pendampingan perguruan tinggi dapat memberikan dampak yang terukur dan berkelanjutan terhadap pengurangan kemiskinan,” ujar Abdul Haris.
Dari 120 perguruan tinggi yang telah menyampaikan laporan, sebanyak 14.594 desa tercatat menjadi wilayah dampingan pada 2026. Jumlah itu diproyeksikan mencapai 20.028 desa pada 2029, sedangkan komitmen bersama menargetkan pendampingan 40.000 desa.
Beasiswa disiapkan untuk kader pemberdayaan
Beasiswa 2.792 penerima diarahkan untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia desa. Namun, sumber belum merinci nama 12 kampus, program studi, cakupan biaya, persyaratan peserta, dan jadwal pendaftaran, sehingga calon penerima masih perlu menunggu ketentuan resmi.
Program ini memperluas pembahasan tentang kolaborasi perguruan tinggi untuk riset dan pengembangan sumber daya manusia. Bedanya, agenda pendampingan desa menempatkan hasil riset dan pembelajaran kampus langsung pada kebutuhan ekonomi lokal serta layanan masyarakat.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan meminta kegiatan pengabdian, termasuk Kuliah Kerja Nyata Tematik, lebih tepat sasaran. Dampaknya baru dapat dinilai setelah tersedia rincian program, sebaran wilayah, penerima beasiswa, serta laporan perubahan pendapatan, kesempatan kerja, atau usaha produktif di desa dampingan. Keterbukaan data pelaksanaan akan menentukan apakah target jangkauan benar-benar tercapai.




