Foto: Kemdiktisaintek
KORAN EDUKASI — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong perguruan tinggi memetakan kebutuhan tenaga kerja dan riset industri energi terbarukan sejak mahasiswa masih menjalani pendidikan. Pemetaan itu dipandang penting agar kompetensi lulusan dan agenda penelitian kampus tidak tertinggal dari perkembangan sektor energi hijau.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menyampaikan arah tersebut dalam pertemuan dengan METI Energi Muda di Kantor Kemdiktisaintek. Pertemuan itu menjadi tahap awal untuk mengidentifikasi persoalan industri, kebutuhan sumber daya manusia, serta bidang riset yang dapat dikerjakan bersama perguruan tinggi.
Menurut Stella Christie, persiapan talenta tidak semestinya baru dilakukan setelah mahasiswa lulus. Kampus perlu mengetahui lebih dini jenis pekerjaan, keterampilan, dan pengetahuan yang dibutuhkan sehingga proses pembelajaran dapat merespons perubahan industri secara lebih tepat.
Pemetaan kebutuhan industri dan riset
“Jadi pada hari ini yang kita ingin lakukan adalah mungkin tahap satu, yaitu problem mapping dan demand mapping, jadi demand dari green energy,” ujar Stella Christie.
Kemdiktisaintek menyebut pemetaan itu relevan dengan pengembangan program pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 100 gigawatt peak. Perguruan tinggi, terutama politeknik, dinilai dapat berperan menyiapkan lulusan dengan kompetensi energi surya sekaligus mengembangkan penelitian yang menjawab kebutuhan teknis dan industri.
Pendekatan tersebut sejalan dengan agenda problem mapping Kemdiktisaintek. Persoalan nyata dari pemerintah dan industri diharapkan menjadi dasar penentuan prioritas riset, skema pendanaan, serta bentuk kolaborasi kampus dan dunia usaha.
Pengalaman praktis bagi mahasiswa
METI Energi Muda juga mendorong pengenalan peluang kerja hijau kepada mahasiswa melalui kegiatan yang tidak berhenti pada seminar. Pengalaman seperti pembuatan purwarupa dan proyek pengabdian kepada masyarakat disebut dapat membantu mahasiswa menerapkan pengetahuan sekaligus membangun portofolio.
Organisasi itu telah menjalankan kampanye energi terbarukan di Bandung, Padang, Sulawesi Utara, Surabaya, dan Jakarta. Untuk tahap berikutnya, METI mengusulkan program pendampingan pemuda yang melibatkan pakar dan pelaku industri, sedangkan kegiatan 2026 masih difokuskan pada peningkatan ketertarikan serta pemahaman mahasiswa terhadap pekerjaan hijau.
Pertemuan tersebut masih merupakan langkah awal. Hasil pemetaan diharapkan menjadi dasar untuk mencocokkan kebutuhan industri dengan talenta, program studi, kompetensi mahasiswa, dan prioritas riset. Arah ini melengkapi dorongan agar kampus berperan lebih aktif dalam ketahanan energi.




