Foto: Humas Universitas Jambi/Ayu Zelnita
KORAN EDUKASI — Dosen Universitas Jambi Prof. Akhmad Habibi, S.Pd.I., M.Pd., Ph.D. tercatat dalam daftar World’s Top 2% Scientists 2025 dan 2026 yang disusun tim Stanford University bersama Elsevier. Ia masuk kategori dampak satu tahun berdasarkan data Scopus.
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi melaporkan pada 14 Oktober 2026 bahwa Akhmad Habibi termasuk sekitar 200 ilmuwan Indonesia dalam daftar tersebut serta menjadi satu-satunya wakil Universitas Jambi dan Provinsi Jambi pada rilis yang dimaksud.
Riset teknologi pendidikan banyak dirujuk
Akhmad Habibi mengajar pada Program Studi Administrasi Pendidikan dan Magister Teknologi Pendidikan. Ia memiliki lebih dari 145 artikel terindeks Scopus dengan fokus teknologi pendidikan, Technology Acceptance Model, Technological Pedagogical Content Knowledge, pembelajaran elektronik, serta penggunaan kecerdasan buatan dalam pendidikan.
Salah satu artikelnya membahas perluasan Technology Acceptance Model untuk memprediksi niat mahasiswa menggunakan platform belajar berbasis metaverse. Artikel yang terbit pada 2023 itu dilaporkan memperoleh lebih dari 1.000 sitasi.
“Ini hasil kerja sama, bukan kerja sendiri,” ujar Akhmad Habibi saat menjelaskan peran kolaborasi internasional dalam pencapaiannya.
Daftar berbasis indikator sitasi
Penyusunan daftar menggunakan sejumlah indikator, termasuk jumlah sitasi, h-index, posisi kepengarangan, dan skor komposit yang memperhitungkan sitasi mandiri serta dampak kolaborasi. Daftar single-year mengukur dampak dalam satu tahun, sedangkan career-long melihat rekam jejak sepanjang karier.
Akhmad Habibi menilai pemilihan topik yang relevan, metode yang kuat, pembacaan literatur terbaru, dan proses revisi berulang membantu karya ilmiah melewati penelaahan jurnal. Ia juga menyebut tantangan menyeimbangkan pengajaran, administrasi, dan riset berkualitas.
Pengakuan berbasis sitasi tidak otomatis mengukur seluruh manfaat penelitian bagi masyarakat. Namun, capaian ini menunjukkan karya teknologi pendidikan dari kampus daerah dapat memperoleh jangkauan global ketika dipublikasikan secara konsisten dan dibangun melalui jejaring kolaborasi.
Ekosistem penelitian serupa memerlukan dukungan institusi. Koran Edukasi sebelumnya melaporkan penguatan kolaborasi internasional dalam riset Indonesia sebagai salah satu jalan memperbesar dampak ilmiah.
Bagi mahasiswa, rekam jejak tersebut menunjukkan pentingnya terlibat dalam penelitian sejak awal, memahami metode secara mendalam, dan membangun kebiasaan membaca literatur. Kampus berperan menyediakan pembimbingan serta ruang kolaborasi yang berkelanjutan.




