Foto: Humas Universitas Negeri Gorontalo/Abdul Wahid Rauf
KORAN EDUKASI — Tim Universitas Negeri Gorontalo mengembangkan BioNira Zero Waste untuk mengolah limbah kolang-kaling dan kulitnya menjadi serbuk serat nano serta pelet biomassa. Program pengabdian kepada masyarakat itu melibatkan Karang Taruna Desa Dulamayo Selatan, Kabupaten Gorontalo.
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi melaporkan pada 14 Oktober 2026 bahwa inovasi tersebut berangkat dari aktivitas pengolahan gula aren yang menghasilkan sisa bahan belum termanfaatkan. Program mendapat pendanaan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kemdiktisaintek pada 2026.
Dua produk dari sisa pengolahan aren
Tim pelaksana terdiri atas Rifka Anggraini Anggai, M.Farm., Dr. Dra. Ha. Sri Endang Saleh, M.Si., dan Angry Pratama Solihin, M.Sc. Mereka mengembangkan pendekatan tanpa limbah dengan memisahkan pemanfaatan buah dan kulit kolang-kaling.
Buah kolang-kaling diolah menggunakan peralatan yang diserahkan kepada pengurus Karang Taruna untuk menghasilkan serbuk serat nano. Kulitnya dimanfaatkan sebagai bahan baku pelet biomassa yang dirancang lebih ramah lingkungan.
“Kulitnya dijadikan pelet biomassa yang ramah lingkungan,” ujar Ketua Tim Pengabdian Rifka Anggraini Anggai.
Pendampingan produksi dan pemasaran
Program tidak berhenti pada penyerahan alat. Tim kampus memberi pendampingan pengolahan bahan baku dan menyusun standar operasional prosedur agar mitra dapat menjaga konsistensi proses produksi.
Karang Taruna juga memperoleh penguatan pada aspek pemasaran dan pencitraan digital. Langkah ini diarahkan agar kemampuan mengolah limbah diikuti kapasitas memperkenalkan produk kepada calon konsumen.
Rilis belum memuat data penjualan, volume produksi komersial, atau peningkatan pendapatan masyarakat. Karena itu, peluang ekonomi yang disebut masih perlu dibuktikan melalui keberlanjutan produksi, mutu produk, akses pasar, dan evaluasi manfaat bagi mitra.
Pengembangan teknologi tepat guna ini memperlihatkan hubungan antara pembelajaran kampus dan kebutuhan desa. Pendekatan serupa juga tampak dalam upaya menghubungkan riset komoditas lokal dengan hilirisasi, dengan catatan bahwa dampak harus dinilai berdasarkan hasil terukur.
Tahap berikutnya yang menentukan ialah pengujian konsistensi produk dan kemampuan mitra menjalankan proses tanpa ketergantungan penuh pada tim kampus. Data produksi serta pemasaran dibutuhkan untuk menilai keberlanjutan program.




