Foto: Kemdiktisaintek
KORAN EDUKASI — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menetapkan 378 proposal penerima pendanaan Program Aksara Mahasiswa 2026 dengan nilai total Rp38,2 miliar. Program pengabdian mahasiswa itu akan dijalankan di 32 provinsi, 176 kabupaten/kota, dan 363 desa mitra.
Penandatanganan kontrak dilaksanakan di Auditorium Graha Diktisaintek, Jakarta, Senin (12/10/2026). Sebelum penetapan, kementerian menerima sekitar 460 proposal. Jumlah penerima menunjukkan sebagian besar usulan lolos seleksi, tetapi pelaksanaannya tetap harus dibuktikan melalui capaian lapangan dan indikator dampak yang terukur.
Masalah masyarakat menjadi titik awal
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek I Ketut Adnyana meminta perguruan tinggi memulai program dari persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Perguruan tinggi dinilai perlu menghubungkan hasil riset dan kapasitas akademiknya dengan kebutuhan desa maupun kelompok warga yang menjadi mitra.
“Jadi kuncinya adalah kepekaan kita, kemampuan kita memetakan dan kemudian memformulasikan permasalahan-permasalahan nyata yang dihadapi oleh lingkungan dan masyarakat kita,” ujar I Ketut Adnyana.
Ruang lingkup program mencakup transformasi sosial di wilayah rawan bencana, daerah tertinggal, terdepan, dan terluar, penanganan stunting, serta pengentasan kemiskinan ekstrem. Tema lain ialah pengelolaan sampah, terutama di Jakarta, Bandung, Bogor, dan Bali, serta pendampingan masyarakat terdampak bencana, termasuk di Nusa Tenggara Timur.
Pelaksanaan harus terukur dan merata
Kemdiktisaintek menekankan mutu proposal, pemerataan pendanaan, serta kapasitas perguruan tinggi sebagai pertimbangan dalam pelaksanaan. Standarisasi indikator dampak juga diperlukan agar hasil program tidak berhenti pada laporan kegiatan, melainkan dapat dinilai manfaat dan keberlanjutannya bagi masyarakat mitra.
Bagi mahasiswa, skema ini menempatkan pengabdian sebagai proses belajar berbasis masalah. Mereka dituntut memadukan pengetahuan dari kampus, pemetaan kebutuhan, kerja sama dengan warga, dan evaluasi hasil. Pendekatan tersebut sejalan dengan upaya memperkuat keterkaitan antara pembelajaran, riset, dan pengabdian kepada masyarakat.
Program ini menambah rangkaian kebijakan yang mendorong kampus menghadirkan solusi dari pengetahuan yang dikembangkan. Sebelumnya, Koran Edukasi juga memberitakan penguatan riset hidrogen alami Indonesia sebagai contoh agenda riset yang diarahkan pada kebutuhan nasional.




