Foto: UI
KORAN EDUKASI — Universitas Indonesia (UI) menempati posisi tertinggi di antara perguruan tinggi wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi dalam Times Higher Education World University Rankings (THE WUR) 2027. Delapan kampus Jabodetabek memperoleh status ranked, sedangkan beberapa perguruan tinggi lain tercatat sebagai reporter.
Secara nasional, 84 perguruan tinggi Indonesia masuk dalam pendataan THE WUR 2027. Sebanyak 42 institusi memperoleh peringkat dunia dan 42 lainnya berstatus reporter, yakni telah menyerahkan data tetapi belum memenuhi seluruh kriteria untuk mendapatkan posisi peringkat.
UI berada pada peringkat nasional pertama. Di kawasan Jabodetabek, posisi berikutnya ditempati BINUS University, IPB University, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Universitas Pelita Harapan, Universitas Negeri Jakarta, dan Universitas Trisakti.
Lima Pilar Penilaian THE WUR
THE WUR 2027 menggunakan lima pilar utama. Kualitas penelitian memiliki bobot terbesar sebesar 30 persen, disusul pengajaran 29,5 persen dan lingkungan penelitian 29 persen.
Pandangan internasional mendapat bobot 7,5 persen, sedangkan hubungan dengan industri melalui pendapatan dan paten berbobot 4 persen. Setiap indikator distandardisasi dalam skor 0–100 sebelum diakumulasikan menjadi skor akhir universitas.
Komposisi bobot tersebut menunjukkan posisi kampus tidak hanya ditentukan oleh kegiatan belajar-mengajar. Reputasi, volume riset, dampak sitasi, jejaring internasional, serta keterhubungan inovasi dengan industri ikut memengaruhi hasil.
Status Reporter Bukan Peringkat
Universitas Bakrie dan Institut Teknologi PLN dicantumkan setelah delapan kampus berstatus ranked, tetapi keduanya masih berstatus reporter. Status itu tidak dapat disamakan dengan posisi peringkat karena institusi belum memperoleh nomor atau kelompok peringkat dunia.
LSPR Institute of Communication and Business, Universitas Muhammadiyah Jakarta, serta President University juga tercatat sebagai reporter. Pembaca perlu membedakan dua status tersebut agar daftar kampus tidak dipahami sebagai urutan tunggal dengan tingkat kepastian yang sama.
Pemeringkatan dapat menjadi salah satu bahan membaca kinerja perguruan tinggi, tetapi bukan satu-satunya dasar memilih kampus. Aspek program studi, biaya, dukungan mahasiswa, dan rekam jejak akademik tetap perlu diperiksa. Dorongan agar kampus mengubah riset menjadi solusi dan nilai tambah juga menunjukkan bahwa manfaat sosial tidak selalu sepenuhnya tertangkap oleh tabel peringkat.




