Minggu, 18 Oktober 2026
spot_img
BerandaEdu MasyarakatSekolah Rakyat Jangkau Lebih dari 44.000 Anak di 182 Titik, Pengawasan Publik...

Sekolah Rakyat Jangkau Lebih dari 44.000 Anak di 182 Titik, Pengawasan Publik Tetap Dibutuhkan

spot_img

Foto: Biro Humas Kemensos/Ayub Argyan Atmaja

KORAN EDUKASI — Program Sekolah Rakyat telah menjangkau lebih dari 44.000 anak melalui 182 titik di 34 provinsi. Sasaran program berasrama ini ialah anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem, termasuk mereka yang pernah putus sekolah atau berisiko tidak melanjutkan pendidikan.

Kementerian Sosial membuka 182 titik Sekolah Rakyat secara serentak kepada masyarakat pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Kegiatan dipusatkan dari Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi dan dibuka Menteri Sosial Saifullah Yusuf bersama Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono secara luring dan daring.

Open house dimaksudkan agar pemerintah daerah, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan warga sekitar dapat melihat fasilitas serta kehidupan peserta didik. Pemerintah juga meminta masyarakat memberi masukan dan ikut mengawasi risiko dalam penyelenggaraan program.

Sekolah Berasrama untuk Anak Rentan Putus Sekolah

Sekolah Rakyat menyediakan ruang kelas, asrama, makanan bergizi, perangkat komputer, tenaga pendidik, dan lingkungan yang ditujukan aman bagi siswa. Selain pendidikan formal, program memadukan pembinaan karakter dan rehabilitasi sosial untuk membantu peserta didik membangun kembali kepercayaan diri.

Saifullah Yusuf menyebut sebagian siswa sebelumnya mengalami keterbatasan berat, pernah putus sekolah, atau nyaris kehilangan harapan. “Tetapi hari ini kita menyaksikan perubahan,” ujar Saifullah Yusuf.

Pemerintah juga melaporkan tujuh siswa Sekolah Rakyat di Makassar meraih prestasi dalam Olimpiade Nasional Indonesia ke-15 pada bidang matematika, biologi, bahasa Indonesia, sejarah, dan sosiologi. Capaian itu merupakan contoh dari sebagian peserta, sehingga tidak serta-merta menggambarkan hasil seluruh sekolah.

Perlu Ukuran Mutu dan Pengawasan Berkelanjutan

Saifullah Yusuf mengakui perjalanan program masih panjang dan sejumlah kekurangan perlu dibenahi. Pengawasan penting karena perluasan titik harus diikuti mutu guru, perlindungan anak di asrama, keberlanjutan pembiayaan, dan mekanisme pengaduan yang dapat diakses keluarga.

Jangkauan 44.000 anak juga perlu dibaca bersama besarnya populasi anak yang berisiko putus sekolah. Data penerima, perkembangan belajar, kesejahteraan siswa, dan kelanjutan pendidikan lulusan menjadi indikator yang lebih kuat daripada jumlah titik semata.

Program ini beririsan dengan pembahasan mengenai skema pendidikan gratis dari PAUD hingga universitas. Perbedaannya, Sekolah Rakyat memberikan layanan berasrama dan pembinaan sosial bagi kelompok sasaran tertentu.

Open house membuka ruang pemeriksaan publik terhadap pelaksanaan program. Dampak akhirnya tetap perlu dinilai melalui pengalaman siswa, kualitas pembelajaran, keamanan lingkungan tinggal, serta kemampuan sekolah menjaga anak tetap belajar hingga menyelesaikan pendidikan.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Koran Edukasi

spot_img