Foto: ANTARA/HO-Humas UI
KORAN EDUKASI — Universitas Indonesia memaparkan hasil kunjungan akademik Indonesian Top Scholars Delegation ke Yunnan dan Guangxi, Tiongkok, pada 9–13 Oktober 2026. Delegasi menelaah praktik energi terbarukan, teknologi lingkungan, industri biomedis, dan kecerdasan artifisial.
Rektor UI Prof. Heri Hermansyah memimpin rombongan tersebut. Kunjungan diarahkan untuk memperluas jejaring akademik global, memperkuat kolaborasi pendidikan tinggi dan riset, serta membuka peluang mobilitas sivitas akademika Indonesia dan Tiongkok.
Dari pembangkit surya hingga energi sampah
Delegasi mengunjungi Huaneng Shilin Photovoltaic Power Generation di Provinsi Yunnan untuk mempelajari pengembangan pembangkit listrik tenaga surya berskala besar. Rombongan juga meninjau Kunming Haichuang Environmental Protection Technology, perusahaan yang mengolah sampah menjadi energi listrik.
Dua lokasi itu digunakan untuk melihat hubungan antara riset, kebutuhan energi, dan pengelolaan lingkungan. UI menilai pengalaman tersebut memberi perspektif mengenai hilirisasi inovasi serta pengembangan teknologi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan Indonesia.
Di sektor biomedis, rombongan mendatangi Yunnan Baiyao Group Tai’an Ecological Technology Industrial Park. Delegasi mempelajari proses pengembangan produk kesehatan berbasis herbal dan teknologi modern hingga memiliki nilai ekonomi.
Pusat AI dan jejaring akademik
Agenda teknologi masa depan mencakup kunjungan ke China-ASEAN Artificial Intelligence Innovation and Cooperation Center serta Guangxi-ASEAN Embodied Intelligence Pilot-Scale Training Ground. Pusat tersebut menjadi bahan pembelajaran mengenai pengembangan kecerdasan artifisial dan infrastruktur inovasi.
Heri Hermansyah menilai pembelajaran langsung dari pusat riset dan industri dapat memperkuat riset, hilirisasi, serta daya saing inovasi nasional. Namun, kunjungan ini masih berupa tahap penjajakan dan pembelajaran; sumber belum merinci proyek bersama, pendanaan, atau jadwal penerapan hasil telaah.
Manfaat bagi pendidikan tinggi akan bergantung pada tindak lanjut berupa riset bersama, pertukaran akademik, dan penerjemahan pengetahuan ke dalam program kampus. Tanpa mekanisme tersebut, kunjungan belum dapat dinilai sebagai hasil inovasi yang sudah diterapkan.
Konteks kolaborasi internasional serupa dibahas dalam laporan Koran Edukasi tentang dampak jejaring global terhadap riset Indonesia. Pengukuran hasil tetap diperlukan agar kerja sama menghasilkan manfaat akademik dan sosial yang terverifikasi.




