Foto: Andry Haryanto/detikJabar
KORAN EDUKASI — Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Sugiono menilai papan interaktif digital dapat meningkatkan antusiasme belajar siswa. Pemerintah akan mengupayakan pemenuhan perangkat tersebut secara bertahap karena kebutuhan setiap sekolah belum dapat dipenuhi sekaligus.
Sugiono menyampaikan hal itu saat meninjau SMAN 2 Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu, 7 Oktober 2026, bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti. Kunjungan berfokus pada digitalisasi pembelajaran serta hasil revitalisasi fasilitas sekolah.
Sekolah berharap setiap kelas memiliki perangkat
Dalam peninjauan, kepala sekolah menyampaikan bahwa papan interaktif digital yang telah digunakan membantu kegiatan belajar. Perangkat bantuan pemerintah tersebut dinilai membuat penyampaian materi lebih variatif dan menarik perhatian siswa yang terbiasa berinteraksi dengan teknologi.
Harapan agar setiap ruang kelas memiliki perangkat serupa kemudian disampaikan kepada pemerintah. Sugiono menegaskan pemenuhannya tidak dapat dilakukan secara serentak.
“Harapannya semuanya dapat masing-masing satu kelas. Tapi ya perlu waktu untuk itu. Kita akan usahakan,” ujar Sugiono.
Pemanfaatan perangkat digital juga dikaitkan dengan karakter siswa yang tumbuh bersama gawai dan layanan digital. Kedekatan itu dapat menjadi pintu masuk pembelajaran, tetapi efektivitasnya tetap bergantung pada cara guru merancang aktivitas, memilih materi, dan memastikan teknologi tidak sekadar menggantikan papan tulis.
Revitalisasi ruang kelas dan toilet ikut ditinjau
Selain perangkat pembelajaran, Sugiono melihat hasil perbaikan ruang kelas dan toilet. Menurut dia, pekerjaan yang telah selesai sejauh ini sesuai dengan rencana dan kebutuhan sekolah yang dikunjungi.
Pemerintah masih menginventarisasi kebutuhan fasilitas lain yang harus ditangani. Karena skala sekolah di Indonesia sangat besar, proses revitalisasi dan penyediaan perangkat memerlukan penentuan prioritas, ketersediaan anggaran, kesiapan listrik dan internet, serta dukungan pemeliharaan di tingkat satuan pendidikan.
Papan digital juga tidak dapat berdiri sendiri sebagai ukuran keberhasilan digitalisasi pendidikan. Sekolah memerlukan konektivitas, sumber belajar yang relevan, pelatihan guru, perlindungan data, dan strategi pembelajaran yang mendorong siswa aktif berpikir, bukan hanya menonton materi pada layar.
Pembahasan digitalisasi ini melengkapi praktik pembelajaran yang sebelumnya diberitakan Koran Edukasi melalui proyek turbin angin dan pembelajaran STEM di Bone Bolango. Teknologi akan memberi dampak lebih besar ketika dipakai untuk membantu siswa menyelidiki, mencoba, dan memperbaiki pemahaman.




