Minggu, 11 Oktober 2026
spot_img
BerandaEdu NewsMurid SNT 6 Bone Bolango Rancang Turbin Angin, STEM Latih Uji Coba...

Murid SNT 6 Bone Bolango Rancang Turbin Angin, STEM Latih Uji Coba Berulang

spot_img

Foto: Tim SNT 6 Bone Bolango

KORAN EDUKASI — Murid kelas VII A SNT 6 Bone Bolango, Gorontalo, mempelajari energi angin dengan merancang purwarupa pembangkit listrik tenaga bayu sederhana. Proyek itu tidak berhenti pada pembuatan alat, tetapi menempatkan pengujian, pembacaan data, dan perbaikan desain sebagai bagian utama pembelajaran Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).

Praktik pembelajaran tersebut diterapkan oleh guru Ilmu Pengetahuan Sosial Mila Karmila dengan memanfaatkan potensi angin di Kabupaten Bone Bolango. Murid diajak menghubungkan kondisi wilayah, sumber daya alam, kebutuhan energi, dan upaya menjaga lingkungan dalam satu rangkaian kegiatan lintas mata pelajaran.

Dari persoalan lingkungan ke rancangan alat

Sebelum merakit purwarupa, murid lebih dulu mengidentifikasi masalah dan potensi nyata di sekitar sekolah. Diskusi diarahkan pada alasan angin dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi serta kemungkinan penggunaannya untuk mendukung kehidupan masyarakat.

Komponen yang digunakan meliputi dinamo arus searah, baling-baling, kabel, lampu LED, kipas angin, dan multimeter. Melalui perangkat tersebut, murid mempelajari perubahan energi angin menjadi energi gerak dan listrik sekaligus mengukur kinerja rancangan yang mereka buat.

Setelah alat selesai dirakit, murid melakukan pengujian dan mengumpulkan data. Hasilnya disajikan dalam tabel atau grafik agar mereka dapat menemukan bagian yang belum bekerja optimal dan menentukan perubahan desain yang diperlukan.

Proses dinilai bersama produk akhir

Penilaian proyek mencakup fungsi purwarupa, kreativitas desain, penggunaan data, kemampuan memecahkan masalah, dan kemampuan menjelaskan hasil. Presentasi kelompok digunakan untuk memperlihatkan perjalanan proyek, termasuk kesalahan dan perbaikan yang dilakukan selama proses berlangsung.

Kerja kelompok juga menjadi bagian dari pembelajaran. Setiap murid memperoleh peran dalam diskusi, perancangan, pengujian, dan penyampaian temuan sehingga keterlibatan tidak hanya terpusat pada satu atau dua anggota.

Guru menghadapi tantangan ketika jadwal dan capaian pembelajaran antarmata pelajaran tidak berdekatan. Untuk mengatasinya, para guru berkoordinasi memetakan capaian dan alur tujuan pembelajaran agar konsep yang dipakai dalam proyek dapat dipelajari secara selaras.

Praktik di Bone Bolango memperlihatkan pola pembelajaran yang juga muncul dalam model Detektif Sains di Kutai Barat: murid ditempatkan sebagai pelaku penyelidikan, bukan sekadar penerima rumus. Nilai utama proyek bukan hanya keberhasilan menyalakan lampu LED, melainkan pengalaman membaca kegagalan, memperbaiki rancangan, dan mencoba kembali berdasarkan data.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Koran Edukasi

spot_img