Foto: ANTARA/Heru Suyitno
KORAN EDUKASI — Sebanyak 36 peserta memulai pendidikan kesetaraan jenjang sekolah menengah atas di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Sentra Terpadu Kartini, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Program ini menyasar anak usia sekolah yang tidak bersekolah, anak putus sekolah, serta calon siswa Sekolah Rakyat yang belum tertampung.
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah untuk tahun ajaran 2026/2027 dibuka di Aula Sentra Terpadu Kartini pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Program dijalankan melalui kerja sama Kementerian Sosial dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dengan dukungan pemerintah daerah.
Akademik ditangani guru daerah
Kepala Sentra Terpadu Kartini di Temanggung Nova Dwiyanto Suli menjelaskan, guru dari Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Temanggung akan menangani pembelajaran akademik. Instruktur dari Sentra Terpadu Kartini menyiapkan pelatihan vokasional untuk membekali peserta dengan keterampilan praktis.
“Program ini diharapkan membuka kesempatan bagi masyarakat untuk kembali mengakses pendidikan dan memperoleh hak belajar yang setara,” ujar Nova Dwiyanto Suli.
Pembagian peran itu menempatkan SKB sebagai wadah pendidikan kesetaraan, sedangkan dinas pendidikan menyediakan tenaga pengajar. Sentra Terpadu Kartini memfasilitasi penyelenggaraan kegiatan sekaligus menyediakan instruktur bagi bagian vokasional.
Belajar dijadwalkan dua kali setiap dua minggu
Pembelajaran bagi 36 peserta dijadwalkan berlangsung berkala setiap dua minggu dengan dua kali kedatangan. Jadwal tersebut perlu dijalankan konsisten agar peserta dapat menuntaskan muatan akademik sekaligus mengikuti pelatihan keterampilan.
Program kesetaraan memberi jalur belajar bagi peserta yang tidak dapat mengikuti sekolah formal secara reguler. Namun, hasilnya tetap bergantung pada kesinambungan kehadiran, kualitas pengajaran, dan dukungan pendampingan selama proses belajar.
Peserta pendidikan kesetaraan memiliki latar kebutuhan yang berbeda dari siswa sekolah formal. Karena itu, koordinasi antara guru akademik dan instruktur vokasional diperlukan agar beban belajar, jadwal, serta pencapaian kompetensi dapat disesuaikan tanpa menurunkan mutu layanan.
Penyelenggara berharap peserta tidak hanya memperoleh pendidikan setara SMA, tetapi juga memiliki bekal vokasional yang dapat digunakan setelah menyelesaikan program. Langkah ini melengkapi perluasan akses melalui program lain, termasuk upaya mengembalikan anak dari keluarga miskin ke layanan pendidikan.




