Foto: ANTARA/Dokumentasi Pribadi
KORAN EDUKASI — Universitas Bengkulu melatih 40 guru sekolah menengah pertama di Kota Bengkulu untuk merancang pembelajaran karakter melalui model collaborative learning project (CLP). Evaluasi program mencatat rata-rata kompetensi peserta meningkat dari 47 persen pada pengukuran awal menjadi 85 persen setelah rangkaian kegiatan, atau naik 38 poin persentase.
Model CLP mengarahkan murid bekerja sama dalam proyek, berbagi tanggung jawab, bertukar gagasan, dan menyelesaikan persoalan. Lima nilai yang diintegrasikan ialah tanggung jawab, gotong royong, integritas, bernalar kritis, dan empati.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Bengkulu Prof. Badeni menyatakan guru perlu menggabungkan materi akademik dengan pembentukan karakter melalui strategi yang interaktif dan relevan.
Pelatihan berjalan dalam empat tahap
Program dimulai dengan pemetaan kebutuhan melalui pre-test, dilanjutkan lokakarya terstruktur, pendampingan penyusunan modul ajar, serta simulasi dan evaluasi menggunakan post-test. Guru terlibat aktif melalui pendekatan participatory action research.
“Guru dituntut tidak hanya menyampaikan materi akademis, tetapi juga mengintegrasikan pembentukan karakter,” ujar Badeni.
Peserta menyusun modul ajar CLP, rubrik asesmen karakter, dan instrumen penilaian antarteman. Mereka kemudian menguji rancangan melalui peer microteaching untuk memperoleh masukan sebelum menerapkannya di sekolah.
Teknologi membantu pengelolaan proyek
Tim Universitas Bengkulu juga memperkenalkan Trello, Canva Teams, dan Padlet untuk mengatur pembagian tugas serta produksi karya bersama. Penggunaan platform tersebut ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti interaksi dan penilaian guru.
Hasil pelatihan mencakup modul lintas kurikulum yang dilengkapi rubrik penilaian karakter. Perangkat itu diharapkan membantu guru melihat keterlibatan dan kontribusi setiap murid, bukan hanya menilai produk akhir kelompok.
Kenaikan skor kompetensi peserta menunjukkan perubahan setelah pelatihan, tetapi belum membuktikan perubahan perilaku murid. Evaluasi lanjutan tetap diperlukan untuk menilai penerapan berkelanjutan dan dampaknya terhadap budaya belajar di sekolah.
Program pengabdian yang didanai melalui skema PPM-Riset 2026 ini melengkapi upaya memperkuat budaya sekolah yang aman dan nyaman. Tantangan berikutnya ialah memastikan guru memiliki waktu, dukungan sekolah, dan perangkat asesmen yang konsisten ketika model diterapkan dalam kelas nyata.




