Minggu, 18 Oktober 2026
spot_img
BerandaFashionPendidikan IndonesiaBGN Uji Coba MBG Prasmanan di 62 SPPG, Perluasan Menunggu Evaluasi

BGN Uji Coba MBG Prasmanan di 62 SPPG, Perluasan Menunggu Evaluasi

spot_img

Foto: ANTARA/Dani Randi

KORAN EDUKASI — Badan Gizi Nasional (BGN) menguji penyajian program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan di 62 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Uji coba berlangsung di sejumlah wilayah, antara lain Merauke, Madura, Pulau Jawa, dan Riau, sebelum skema tersebut dipertimbangkan untuk diperluas.

Wakil Kepala BGN Sudaryono menjelaskan bahwa sistem prasmanan dipilih untuk menguji efisiensi konsumsi dan menjaga makanan tetap hangat saat disantap siswa. Model ini juga mengubah alur layanan karena murid mengambil porsi secara bergiliran, bukan menerima paket makan yang sudah dibagikan.

Target perluasan masih bersyarat

BGN menyebut perluasan dapat menjangkau 1.000 hingga 5.000 SPPG pada akhir 2026. Namun, angka tersebut merupakan target yang bergantung pada hasil evaluasi uji coba, kesiapan infrastruktur, dan kemampuan petugas menjalankan prosedur baru.

“Jika tidak ditemukan masalah yang signifikan, hingga akhir tahun kami menargetkan sedikitnya 1.000 hingga 5.000 dapur dapat melaksanakan MBG dengan sistem prasmanan,” kata Sudaryono.

Pada tahap awal, penerapan hanya dilakukan di sekolah dan SPPG yang dinilai mampu serta bersedia menjalankannya. BGN belum menyatakan seluruh dapur akan langsung beralih karena kondisi ruang makan, peralatan, jumlah murid, dan pola distribusi berbeda di setiap daerah.

Aspek pendidikan dan keamanan layanan

Sistem prasmanan dinilai dapat melatih partisipasi siswa melalui antrean, pembagian tugas piket, dan kebiasaan mengambil makanan sesuai kebutuhan. Manfaat pendidikan tersebut tetap harus dibarengi pengawasan kebersihan, ketertiban, dan kecukupan gizi agar perubahan cara penyajian tidak mengurangi mutu layanan.

Sekolah juga memerlukan prosedur yang jelas untuk mengatur arus siswa, mencegah kontaminasi, dan memastikan semua penerima memperoleh porsi. Kesiapan ini berkaitan dengan upaya yang lebih luas untuk membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman.

BGN menyebut pelatihan petugas sebagai salah satu tantangan implementasi. Karena itu, hasil uji coba perlu menjelaskan bukan hanya kecepatan layanan dan sisa makanan, tetapi juga keamanan pangan, beban kerja, waktu belajar yang terpakai, serta pengalaman murid.

Selama evaluasi belum selesai, target 5.000 SPPG tidak dapat diperlakukan sebagai jumlah yang sudah menerapkan prasmanan. Perluasan baru dapat dinilai berhasil apabila prosedur bekerja konsisten di berbagai kondisi sekolah dan tetap menjaga tujuan utama program, yakni penyediaan makanan bergizi bagi peserta didik.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Koran Edukasi

spot_img