Minggu, 18 Oktober 2026
spot_img
BerandaEdu NewsFTBI Jawa Tengah 2026 Libatkan 490 Siswa, Bahasa Jawa Didorong Hidup di...

FTBI Jawa Tengah 2026 Libatkan 490 Siswa, Bahasa Jawa Didorong Hidup di Rumah dan Sekolah

spot_img

Foto: ANTARA/HO-Humas Kemendikdasmen

KORAN EDUKASI — Sebanyak 490 siswa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama mengikuti Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Provinsi Jawa Tengah 2026. Kegiatan ini diarahkan untuk memperluas penggunaan Bahasa Jawa, tidak hanya sebagai muatan pembelajaran di sekolah, tetapi juga sebagai bahasa yang hidup di rumah dan lingkungan sosial.

Festival berlangsung pada 9–11 Oktober 2026 di Kabupaten Semarang. Total peserta mencapai 560 orang, terdiri atas 490 siswa dan 70 pendamping dari 35 kabupaten dan kota. Para siswa merupakan juara pertama FTBI tingkat daerah masing-masing.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menilai sekolah tidak dapat bekerja sendiri dalam menjaga keberlanjutan bahasa daerah. Keluarga memiliki peran penting karena kebiasaan berbahasa terbentuk melalui percakapan sehari-hari dan hubungan antargenerasi.

Tujuh Cabang Bahasa dan Sastra Jawa

FTBI Jawa Tengah mempertandingkan tujuh cabang, yakni menulis dan membaca aksara Jawa, membaca geguritan, menulis cerita cekak, mendongeng, berpidato atau sesorah, melantunkan macapat, serta komedi tunggal atau ndhagel ijen.

Ragam cabang itu memberi ruang bagi murid untuk menggunakan Bahasa Jawa dalam bentuk tulisan, tuturan, sastra, dan pertunjukan. Pendekatan tersebut menempatkan bahasa daerah sebagai sarana berekspresi, bukan sekadar materi yang dipelajari untuk memenuhi penilaian sekolah.

“Bahasa Jawa itu tidak hanya mengajarkan kita berbicara. Di dalamnya ada unggah-ungguh, ada akhlak,” ujar Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen. Ia juga mengingatkan pentingnya merawat dialek yang berkembang di berbagai wilayah Jawa Tengah.

Pelestarian Memerlukan Kebiasaan

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Hafidz Muksin menempatkan bahasa daerah sebagai wadah nilai, identitas, dan jati diri. Karena itu, program festival perlu disertai kesempatan nyata bagi anak untuk memakai bahasa ibu setelah perlombaan berakhir.

Penguatan ekosistem semacam ini berhubungan dengan agenda literasi yang melibatkan sekolah, keluarga, dan masyarakat. Pendekatan serupa juga terlihat dalam upaya Badan Bahasa memperkuat gerakan literasi di Nusa Tenggara Timur melalui partisipasi banyak pihak.

Bagi sekolah, hasil festival dapat menjadi bahan untuk mengembangkan kegiatan berbahasa yang lebih rutin, termasuk pementasan, klub sastra, dan publikasi karya murid. Keberlanjutan penggunaan di luar kelas menjadi penentu apakah keterampilan peserta berkembang menjadi kebiasaan.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Koran Edukasi

spot_img