Jumat, 2 Oktober 2026
spot_img
BerandaEdu NewsIIBF 2026 Soroti Kemandirian Belajar Siswa di Tengah Maraknya Bimbingan Belajar

IIBF 2026 Soroti Kemandirian Belajar Siswa di Tengah Maraknya Bimbingan Belajar

spot_img

Foto: Penerbit Erlangga

KORAN EDUKASI — Kemandirian belajar siswa menjadi pokok pembahasan dalam diskusi pendidikan di Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026. Forum itu menyoroti kecenderungan sebagian keluarga menjadikan bimbingan belajar sebagai pilihan utama, meski kebutuhan setiap siswa tidak selalu sama.

Diskusi berlangsung di Jakarta International Convention Center, Jakarta, Kamis, 1 Oktober 2026. Narasumbernya terdiri atas penulis buku Tes Kemampuan Akademik Iman Santoso, mahasiswa Institut Teknologi Bandung Farellevi Al-Fasahbari, serta psikolog anak dan remaja Wikan Putri Larasati.

Pembicaraan tidak menempatkan bimbingan belajar sebagai satu-satunya penentu hasil akademik. Kemampuan menetapkan target, mengenali kebutuhan, memilih bahan belajar, berlatih, dan mengatur waktu dipandang sebagai unsur penting agar siswa tidak sepenuhnya bergantung pada pendampingan tambahan.

Bimbingan Belajar Perlu Disesuaikan dengan Kebutuhan

Iman Santoso menjelaskan bahwa ketekunan dan pemanfaatan bahan belajar dapat membantu siswa mempersiapkan ujian tanpa selalu mengikuti les berbayar. Farellevi Al-Fasahbari, yang diperkenalkan sebagai peraih nilai TKA Matematika SMA 2025 tertinggi di Jawa Tengah, juga menekankan pentingnya kemampuan mengarahkan proses belajar sendiri.

Pandangan tersebut tidak berarti setiap siswa harus menolak bimbingan belajar. Pendampingan tambahan dapat dibutuhkan ketika siswa belum mampu menentukan prioritas, mengalami kesulitan pada materi tertentu, atau memerlukan struktur belajar yang lebih teratur. Keputusan sebaiknya mempertimbangkan kebutuhan akademik, kondisi siswa, waktu istirahat, dan kemampuan keluarga.

Jadwal tambahan yang terlalu padat juga perlu diperhatikan. Setelah mengikuti pembelajaran di sekolah, siswa membutuhkan waktu untuk beristirahat, meninjau materi, mengerjakan tugas, dan menjalani kegiatan lain. Program tambahan yang tidak proporsional dapat membuat waktu belajar semakin panjang tanpa otomatis memperbaiki pemahaman.

Kenali Strategi Belajar, Bukan Label Gaya Belajar

Wikan Putri Larasati mengingatkan agar siswa tidak dikotakkan hanya sebagai pembelajar visual atau auditori. Menurut penjelasannya dalam forum, proses belajar dapat memadukan berbagai cara, seperti membaca, mengucapkan kembali materi, dan membuat rangkuman.

Pendekatan itu mengarahkan perhatian pada strategi yang dapat dicoba dan dievaluasi. Siswa bisa menilai apakah suatu cara membantu memahami konsep, mengingat informasi, atau menyelesaikan soal, kemudian menyesuaikannya dengan jenis materi yang dipelajari.

Kemandirian belajar juga memerlukan kemampuan memeriksa hasil. Latihan soal, catatan kemajuan, dan pembahasan kesalahan dapat digunakan untuk mengetahui bagian yang sudah dikuasai dan bagian yang masih membutuhkan bantuan guru, teman, orang tua, atau tutor.

Pembahasan di IIBF 2026 relevan dengan agenda asesmen pendidikan yang sedang berjalan. Siswa dapat menggunakan sarana latihan secara terukur, seperti simulasi TKA 2026 yang memuat tautan dan durasi tes, tanpa mengabaikan pemahaman konsep serta waktu istirahat.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Koran Edukasi

spot_img