Senin, 12 Oktober 2026
spot_img
BerandaEdu MasyarakatGerakan Literasi Pasaman Barat Libatkan Guru dan Siswa, Budaya Membaca Didorong dari...

Gerakan Literasi Pasaman Barat Libatkan Guru dan Siswa, Budaya Membaca Didorong dari Sekolah hingga Keluarga

spot_img

Foto: ANTARA/Altas Maulana

KORAN EDUKASI — Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, memperkuat gerakan literasi dengan melibatkan guru, siswa, keluarga, komunitas, dan pegiat literasi. Upaya itu ditandai melalui seminar “Seribu Guru Hebat, Sejuta Murid Hebat” yang menghadirkan Duta Baca Indonesia Gol A Gong pada Sabtu, 10 Oktober 2026.

Kegiatan diselenggarakan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Pasaman Barat bersama Forum Pegiat Literasi serta Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Pasaman Barat. Pesertanya berasal dari kalangan guru dan siswa.

Literasi melampaui kemampuan membaca

Bupati Pasaman Barat Yulianto menempatkan literasi sebagai bagian dari peningkatan kualitas sumber daya manusia. Menurutnya, pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur, tetapi perlu diiringi pendidikan dan penguatan budaya membaca serta menulis.

Literasi dalam kegiatan tersebut dipahami tidak sebatas mengenali teks. Kemampuan memahami informasi, memperluas wawasan, mengembangkan pemikiran, dan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari juga menjadi bagian dari sasaran gerakan.

Guru memiliki posisi penting karena berhadapan langsung dengan murid dalam proses belajar. Penguatan literasi di sekolah diharapkan berjalan bersama pembentukan karakter, etika, tanggung jawab sosial, serta kebiasaan belajar yang produktif.

Lingkungan membaca perlu dibangun bersama

Bunda Literasi Pasaman Barat Sifrowati Yulianto menekankan bahwa sekolah tidak dapat bekerja sendiri. “Gerakan literasi merupakan tanggung jawab kita bersama,” ujar Sifrowati Yulianto.

Keterlibatan keluarga dan komunitas dibutuhkan agar kegiatan membaca tidak berhenti di kelas atau pada acara seremonial. Lingkungan rumah, perpustakaan, dan ruang komunitas dapat menjadi tempat anak mengembangkan rasa ingin tahu serta membiasakan diri mengolah informasi.

Pemerintah daerah belum memaparkan indikator keberhasilan seminar tersebut. Dampaknya karena itu perlu diukur melalui tindak lanjut di sekolah, misalnya ketersediaan bahan bacaan, kegiatan menulis yang berkelanjutan, dan perubahan kebiasaan membaca murid.

Kehadiran Gol A Gong diarahkan untuk memberi dorongan kepada guru dan pegiat literasi dalam mengembangkan kegiatan membaca dan menulis. Praktik tersebut dapat dilengkapi dengan pembelajaran yang melatih penalaran, seperti penguatan berpikir komputasional bagi murid, selama pelaksanaannya tetap berangkat dari kebutuhan belajar setempat.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Koran Edukasi

spot_img