Minggu, 18 Oktober 2026
spot_img
BerandaFashionPendidikan IndonesiaBNPB Dorong Simulasi Evakuasi Rutin di Sekolah, Tiga Pilar SPAB Ditekankan

BNPB Dorong Simulasi Evakuasi Rutin di Sekolah, Tiga Pilar SPAB Ditekankan

spot_img

Foto: ANTARA/HO-BNPB

KORAN EDUKASI — Badan Nasional Penanggulangan Bencana mendorong sekolah menggelar simulasi evakuasi secara rutin, terutama pada jenjang sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Langkah itu menjadi bagian dari penguatan Satuan Pendidikan Aman Bencana agar murid dan tenaga pendidik memahami tindakan yang harus dilakukan saat keadaan darurat.

Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari menyampaikan penguatan kesiapsiagaan tersebut dalam kegiatan di Serang yang diselenggarakan Lembaga Resiliensi Bencana atau Muhammadiyah Disaster Management Center Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Menurut BNPB, frekuensi bencana membutuhkan dukungan lintas sektor, termasuk lembaga pendidikan.

Tiga pilar kesiapsiagaan sekolah

Kerangka Satuan Pendidikan Aman Bencana atau SPAB bertumpu pada tiga pilar. Pertama, fasilitas pendidikan harus dibangun atau diperkuat agar tahan terhadap ancaman bencana. Kedua, sekolah memerlukan regulasi dan prosedur operasi standar yang jelas untuk evakuasi. Ketiga, pendidikan kebencanaan perlu masuk ke dalam proses pembelajaran.

Simulasi menjadi bagian penting karena pengetahuan prosedural perlu dilatih, bukan hanya dibaca. Murid harus mengenali jalur keluar, titik kumpul, peran guru, serta cara merespons instruksi tanpa menimbulkan kepanikan. Latihan berkala juga membantu sekolah menemukan kelemahan dalam rute maupun pembagian tugas sebelum keadaan darurat benar-benar terjadi.

BNPB mencatat kejadian bencana dapat berlangsung 15 hingga 20 kali per hari. Jika turut menghitung peristiwa yang ditangani secara mandiri oleh pemerintah daerah, jumlahnya diperkirakan mencapai 5.000 sampai 6.000 kejadian dalam satu tahun. Angka itu menunjukkan kesiapsiagaan sekolah tidak dapat diperlakukan sebagai kegiatan sesekali.

Risiko lokal perlu diterjemahkan ke latihan

Pengalaman gempa Yogyakarta 2006 menjadi salah satu pengingat penting. Bencana yang berlangsung dalam hitungan detik itu menewaskan lebih dari 6.000 orang. Dampak besar dalam waktu singkat membuat kecepatan mengambil keputusan dan kepatuhan terhadap prosedur evakuasi menjadi sangat menentukan.

Untuk Banten, kewaspadaan berkaitan dengan ancaman megathrust Selat Sunda dan aktivitas Anak Krakatau. Sekolah perlu menyesuaikan rencana dengan karakter ancaman setempat, termasuk menentukan jalur aman, tempat berkumpul, kebutuhan murid penyandang disabilitas, dan mekanisme komunikasi dengan orang tua.

Kesiapsiagaan juga perlu tetap berjalan ketika pola belajar berubah akibat keadaan darurat. Koran Edukasi sebelumnya mengulas pembelajaran jarak jauh di Palangka Raya, yang menunjukkan sekolah harus memiliki prosedur agar keselamatan dan kelangsungan belajar dapat dijaga bersamaan.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Koran Edukasi

spot_img