Foto: Nurlaili/Kemendikdasmen
KORAN EDUKASI — Murid kelas XI Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Taman, Sidoarjo, mengembangkan ART-MATIKS, aplikasi redesain dan transformasi matematika batik Sidoarjo. Proyek kokurikuler itu menggabungkan transformasi geometri, kecerdasan artifisial, dan pelestarian budaya lokal dalam rangkaian Bulan Bahasa.
ART-MATIKS dikembangkan dengan pendampingan guru matematika Ika Yunita. Murid memanfaatkan konsep dilatasi, refleksi, rotasi, dan translasi untuk mengolah pola batik. Mereka kemudian menggunakan perintah atau prompt pada perangkat kecerdasan artifisial untuk menyempurnakan rancangan motif.
Dari konsep geometri menjadi produk
Hasil desain tidak berhenti sebagai tugas digital. Motif yang dibuat murid diterapkan pada botol minum, pajangan, kipas, gantungan kunci, kain, dan produk fesyen. Proses itu mempertemukan pembelajaran matematika dengan keterampilan desain, literasi teknologi, dan pemahaman terhadap identitas daerah.
“Sebelumnya kita sebagai warga Sidoarjo juga memiliki kewajiban untuk melestarikan kearifan lokal itu sendiri,” ucap Elfaretha Shifa, salah satu murid yang terlibat dalam proyek.
Kepala SMAN 1 Taman Dewi Nurmalasari menjelaskan, kegiatan tersebut dirancang sebagai pembelajaran mendalam yang kolaboratif dan berpusat pada murid. Pameran karya memberi ruang bagi siswa untuk menjelaskan proses penciptaan, bukan hanya menampilkan produk akhirnya.
Bulan Bahasa diperluas menjadi ruang lintas disiplin
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti meninjau kegiatan Bulan Bahasa di sekolah tersebut. Dalam konteks acara, bahasa ditempatkan tidak hanya sebagai sarana komunikasi, tetapi juga berkaitan dengan identitas dan kedaulatan bangsa. Di sekolah, gagasan itu diterjemahkan melalui karya yang menghubungkan bahasa, budaya, sains, teknologi, rekayasa, seni, dan matematika.
Proyek ART-MATIKS menunjukkan pembelajaran budaya dapat dirancang lintas mata pelajaran. Geometri membantu murid memahami perubahan bentuk, kecerdasan artifisial menjadi alat pengembangan visual, sedangkan batik memberi konteks lokal yang membuat konsep abstrak lebih dekat dengan pengalaman mereka.
Pendekatan serupa dapat memperkuat hubungan antara kegiatan kebahasaan dan praktik belajar di kelas. Koran Edukasi sebelumnya juga memberitakan Festival Tunas Bahasa Ibu di Jawa Tengah, yang menempatkan bahasa daerah sebagai bagian dari proses pendidikan dan pelestarian budaya.




