Foto: ANTARA/HO-Diskominfo Solok
KORAN EDUKASI — Pemerintah Kota Solok, Sumatera Barat, memulai pendampingan tiga bulan bagi 100 guru sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) melalui Indonesia Teaching Fellowship (ITF) 2026. Program difokuskan pada penguatan pembelajaran literasi dan numerasi serta persiapan siswa menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA) pada 2027.
Seratus peserta dipilih dari 204 pendaftar. Komposisinya terdiri atas 50 guru SD dan 50 guru SMP, dengan 57 guru bidang matematika serta 43 guru bahasa Indonesia.
Pendampingan dibiayai APBD
Program dijalankan melalui kerja sama Dinas Pendidikan Kota Solok dengan Yayasan Ruangguru dan didanai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Solok Tahun Anggaran 2026. Selain pendampingan, pelaksanaan akan disertai koordinasi, pemantauan, dan evaluasi.
“Guru memiliki peran strategis dalam menentukan kualitas pendidikan. Karena itu, peningkatan kompetensi guru harus menjadi perhatian bersama agar proses pembelajaran semakin berkualitas, efektif, dan mampu menjawab kebutuhan peserta didik,” kata Wakil Wali Kota Solok Suryadi Nurdal.
Literasi dan numerasi dipilih karena keduanya menjadi fondasi untuk memahami materi, mengolah informasi, dan menyelesaikan persoalan secara sistematis. Hasil pendampingan diharapkan tidak berhenti pada pemahaman peserta selama pelatihan, tetapi diterapkan dalam metode pembelajaran di kelas.
Penerapan menjadi ukuran hasil
Kepala Dinas Pendidikan Kota Solok Lusya Adelina meminta peserta disiplin mengikuti rangkaian tiga bulan, aktif dalam kegiatan, dan menyelesaikan setiap penugasan. Pemerintah daerah akan menilai kemampuan guru menerapkan pengetahuan dan keterampilan sebagai bagian penting keberhasilan program.
Fokus penerapan itu krusial karena jumlah peserta hanya mencakup guru terpilih. Dampak program bergantung pada perubahan praktik mengajar dan penyebaran pengalaman kepada rekan guru di sekolah masing-masing, bukan sekadar selesainya agenda pendampingan.
Penguatan kompetensi juga perlu diikuti kemampuan membimbing penggunaan teknologi secara bertanggung jawab. Sebelumnya, guru di Bantul diminta memperkuat daya kritis siswa agar kecerdasan artifisial tidak menjadi jalan pintas. Literasi, numerasi, dan daya kritis merupakan kemampuan yang saling berkaitan ketika siswa menghadapi TKA maupun persoalan sehari-hari.




