Foto: Humas Universitas Muslim Indonesia
KORAN EDUKASI — Sebanyak 120 tim organisasi kemahasiswaan dari 60 perguruan tinggi mengikuti Anugerah Abdidaya Organisasi Kemahasiswaan 2026 di Universitas Muslim Indonesia (UMI), Makassar. Kegiatan nasional itu melibatkan sekitar 1.900 mahasiswa dari berbagai daerah.
UMI menjadi tuan rumah rangkaian Abdidaya Ormawa mulai Kamis (22/10/2026). Upacara pembukaan dijadwalkan berlangsung pada malam hari setelah gladi bersih dan persiapan pertunjukan seni yang dilakukan sejak siang.
Abdidaya Ormawa merupakan ajang apresiasi bagi kontribusi serta praktik baik organisasi mahasiswa dalam pemberdayaan masyarakat. Program yang dinilai berasal dari pelaksanaan Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan atau PPK Ormawa.
Hasil Program Dipamerkan dan Dibahas
Peserta tidak hanya membawa laporan kegiatan. Hasil program diperkenalkan melalui pameran, poster, dan video, sedangkan pengalaman pelaksanaan dibagikan melalui seminar lokakarya serta sarasehan. Rangkaian kemudian ditutup dengan malam penganugerahan.
Format tersebut memberi ruang bagi tim untuk menunjukkan hubungan antara gagasan mahasiswa dan perubahan yang dikerjakan bersama masyarakat. Penilaian juga dapat melihat bagaimana program dirancang, dilaksanakan, didokumentasikan, dan berpotensi diteruskan setelah pendampingan berakhir.
Salah satu contoh kegiatan pemberdayaan yang juga muncul dari organisasi mahasiswa adalah inovasi mahasiswa Politeknik Negeri Subang mengolah sampah pasar menjadi produk berbasis maggot. Praktik semacam ini memperlihatkan peran mahasiswa dalam menghubungkan pengetahuan kampus dengan persoalan nyata di lingkungan sekitar.
Agenda Tahunan sejak 2021
Anugerah Abdidaya Ormawa diinisiasi Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Sejak 2021, kegiatan ini digelar setiap tahun sebagai puncak evaluasi dan apresiasi pelaksanaan PPK Ormawa.
Pelibatan 60 kampus membuat forum tersebut sekaligus menjadi ruang pertukaran pendekatan antardaerah. Tim dapat membandingkan cara memetakan kebutuhan, membangun kemitraan lokal, mengukur hasil program, serta menjaga keberlanjutan kegiatan ketika periode program selesai.
Jumlah 120 tim dan sekitar 1.900 mahasiswa menunjukkan skala partisipasi nasional, tetapi penghargaan tetap perlu dibaca sebagai evaluasi atas proses serta manfaat program. Dampak akhirnya ditentukan oleh keberlanjutan kerja organisasi mahasiswa dan keterlibatan masyarakat penerima manfaat.




