Jumat, 23 Oktober 2026
spot_img
BerandaEdu NewsGuru Bantul Diminta Perkuat Daya Kritis Siswa agar AI Tidak Jadi Jalan...

Guru Bantul Diminta Perkuat Daya Kritis Siswa agar AI Tidak Jadi Jalan Pintas

spot_img

Foto: ANTARA/Agung Dwi Prakoso

KORAN EDUKASI — Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Bantul mendorong guru memperkuat kemampuan berpikir kritis dan argumentatif siswa untuk mencegah kecerdasan artifisial digunakan sebagai jalan pintas mengerjakan tugas. Pemanfaatan AI perlu disertai pemahaman etika dan risiko plagiarisme.

Pelaksana Tugas Kepala Disdikpora Bantul Titik Sunarti Widyaningsih mengatakan guru perlu memahami penggunaan alat seperti ChatGPT sebelum membimbing murid. Teknologi dapat membantu pembelajaran, tetapi siswa tidak boleh sekadar menyalin hasil tanpa mengolahnya.

Disdikpora menilai kebiasaan menyalin jawaban dapat menghambat perkembangan kemampuan berpikir. Guru karena itu diminta mendorong murid menyampaikan pendapat, menelusuri alasan, dan membangun argumentasi sendiri.

Pertanyaan Harus Menggali Pemahaman

“Harapan kami, anak-anak cenderung ke arah berpikir argumentatif,” ujar Titik Sunarti Widyaningsih di Bantul, Senin, 19 Oktober 2026.

Pendekatan tersebut sejalan dengan pembelajaran mendalam yang menekankan proses belajar bermakna. Guru perlu merancang pertanyaan yang tidak cukup dijawab dengan menyalin informasi, tetapi menuntut siswa menjelaskan proses berpikir dan mempertahankan pendapatnya.

Jawaban dari AI dapat digunakan sebagai bahan awal, tetapi siswa tetap perlu memeriksa fakta, membandingkan sumber, dan mengolah informasi dengan bahasa sendiri. Proses ini membantu murid mengingat materi sekaligus memahami batas kemampuan teknologi.

Etika dan Plagiarisme Dijelaskan

Guru juga diminta memberikan rambu-rambu mengenai etika bermedia sosial, penggunaan AI, dan dampak plagiarisme. Aturan yang jelas diperlukan agar murid memahami perbedaan antara memakai teknologi sebagai alat bantu dan menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin.

Tanggung jawab sekolah bukan menutup akses terhadap AI, melainkan membangun kecakapan menggunakannya secara tepat. Pengawasan perlu diikuti contoh tugas, dialog kelas, dan cara penilaian yang menghargai proses.

Penguatan ini sejalan dengan berbagai program sekolah berbasis teknologi. Koran Edukasi sebelumnya melaporkan Program VERTIKAL SMA yang memanfaatkan data dan AI untuk membantu sekolah menyusun rekomendasi berbasis kondisi satuan pendidikan.

RELATED ARTICLES

1 KOMENTAR

Komentar ditutup.

- Advertisment -spot_img

Koran Edukasi

spot_img