Kamis, 1 Oktober 2026
spot_img
BerandaEdu NewsPISA 2025 Indonesia: Skor Membaca dan Sains Naik, Matematika Turun Dua Poin

PISA 2025 Indonesia: Skor Membaca dan Sains Naik, Matematika Turun Dua Poin

spot_img

Foto: Ilustrasi AI diolah oleh ChatGPT/detikEdu.

KORAN EDUKASI — Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 memperlihatkan gambaran yang tidak sepenuhnya seragam bagi Indonesia. Skor membaca dan sains mengalami kenaikan dibandingkan penilaian 2022, sedangkan matematika turun dua poin.

Indonesia mencatat skor 365 untuk membaca, naik tujuh poin; 389 untuk sains, naik enam poin; dan 364 untuk matematika, turun dua poin. Pada bidang collaborative problem solving atau pemecahan masalah kolaboratif, skor Indonesia tercatat 427.

Lebih dari 14 ribu pelajar menjadi sampel

Penilaian PISA dilakukan terhadap pelajar berusia 15 tahun. Dalam pelaksanaan 2025, sebanyak 14.168 pelajar dari 419 sekolah di Indonesia mengikuti asesmen. Sampel tersebut mewakili sekitar 3,995 juta pelajar berusia 15 tahun.

PISA tidak sekadar menguji hafalan mata pelajaran. Asesmen ini melihat kemampuan peserta menggunakan pengetahuan membaca, matematika, dan sains untuk menghadapi persoalan. Karena itu, hasilnya dapat menjadi salah satu cermin kemampuan menerapkan pengetahuan, meskipun tidak boleh dibaca sebagai satu-satunya ukuran mutu pendidikan.

Di antara delapan negara Asia Tenggara yang dibandingkan dalam laporan tersebut, Indonesia berada di peringkat keenam. Posisi itu menunjukkan bahwa kenaikan pada dua bidang belum cukup untuk menutup jarak dengan negara-negara yang mencatat performa lebih tinggi.

Perbaikan pembelajaran perlu menyentuh kelas dan rumah

Guru Besar Sosiologi Universitas Airlangga Tuti Budirahayu menilai mutu pendidikan masih cenderung stagnan dan kebijakan belum terintegrasi secara kuat. Ia menekankan peran keluarga, sekolah, serta lingkungan masyarakat dalam membangun kebiasaan belajar.

Bagi sekolah, data PISA dapat dipakai untuk memeriksa kembali pengalaman belajar murid. Pembelajaran matematika, misalnya, perlu memberi lebih banyak kesempatan untuk bernalar, membaca data, dan menjelaskan strategi penyelesaian, bukan hanya mengingat rumus.

Kenaikan skor membaca juga perlu dilihat lebih dalam. Literasi tidak terbatas pada kemampuan membaca teks, tetapi mencakup menilai informasi, memahami konteks, dan membedakan sumber yang dapat dipercaya. Keterampilan ini makin penting ketika murid berhadapan dengan informasi digital dan kecerdasan buatan.

Fokus pada kemampuan yang dapat dipakai

Pakar tersebut juga menyoroti berpikir kritis, literasi keuangan, literasi digital, dan pemecahan masalah kolaboratif. Keempat kemampuan itu dapat dikembangkan melalui pembelajaran lintas mata pelajaran, proyek kelompok, dan masalah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Hasil PISA berbeda fungsi dengan Tes Kemampuan Akademik. Penjelasan mengenai perubahan rentang skor TKA 2026 untuk SMA, SD, dan SMP dapat membantu pembaca memahami perbedaan konteks asesmen nasional dan internasional.

Perubahan skor PISA sebaiknya menjadi awal evaluasi, bukan sekadar bahan pemeringkatan. Yang paling penting adalah bagaimana temuan tersebut diterjemahkan menjadi dukungan bagi guru, bahan ajar yang menantang penalaran, serta lingkungan belajar yang memberi ruang bagi murid untuk bertanya dan memecahkan masalah.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Koran Edukasi

spot_img