Foto: RRI/Titik.
KORAN EDUKASI — Peneliti Pusat Studi Pancasila Universitas Gadjah Mada, Hendro Muhaimin, mendorong penguatan literasi kebangsaan digital untuk menghadapi disinformasi dan polarisasi. Kemampuan menggunakan teknologi, menurutnya, perlu disertai kecakapan memeriksa informasi dan berdialog dengan kelompok berbeda.
Gagasan itu disampaikan dalam dialog Kawruh Pro 4 RRI Yogyakarta pada Kamis (1/10/2026), bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila.
Belajar hidup dalam keberagaman
RRI melaporkan, Hendro menyoroti kecenderungan pengguna ruang digital berinteraksi hanya dengan pandangan serupa. Kondisi tersebut dapat memperkuat keterpisahan antarkelompok.
Ia mengusulkan pendidikan Pancasila yang memberi ruang lebih besar bagi musyawarah, diskusi interaktif, dan proyek kemasyarakatan. Pengalaman itu diharapkan membantu generasi muda mempraktikkan nilai yang dipelajari.
“Ketika ruang digital semakin gaduh, Pancasila hadir sebagai etika.” Demikian bagian pernyataan Hendro yang dikutip RRI.
Memeriksa informasi, membuka dialog
Literasi kebangsaan digital yang dimaksud mencakup pemeriksaan kebenaran informasi, kesiapan berdialog, serta penghormatan terhadap keberagaman di media sosial. Hendro menilai relevansi Pancasila perlu terlihat dalam kemampuan menjawab persoalan masyarakat, termasuk di ruang digital.
Baca juga: Penguatan pendidikan Pancasila melalui keseharian sekolah.




