Foto: Istimewa/detikEdu.
KORAN EDUKASI — Kecerdasan buatan mulai digunakan untuk membantu penelitian warisan budaya Indonesia. Badan Riset dan Inovasi Nasional memperkenalkan Lalita Interactive Catalogue, aplikasi yang menggabungkan data tiga dimensi dan AI untuk membantu identifikasi arca.
Teknologi tersebut diperkenalkan dalam puncak Indonesia Research and Innovation Fair 2026 di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo, BRIN, Jakarta, Kamis, 24 September 2026. Nama Lalita diambil dari bahasa Sanskerta yang berarti cantik.
Mencocokkan profil arca melalui basis data
Tim pengembang mengumpulkan data tiga dimensi arca ke dalam sebuah dataset. AI kemudian dipakai untuk mencari kecocokan wajah, bentuk, dan profil benda yang ditemukan dengan koleksi yang telah tersimpan di dalam katalog.
Proses itu dapat membantu peneliti menyusun dugaan awal mengenai asal-usul suatu arca. Hasil aplikasi bukan pengganti keputusan arkeolog, melainkan alat bantu untuk mempercepat perbandingan data dan membuka pertanyaan penelitian baru.
Pengembangan Lalita melibatkan konsultasi dengan arkeolog Indonesia dan museum di Belanda. Kolaborasi tersebut penting karena koleksi dan dokumentasi benda bersejarah Indonesia tersebar di berbagai lembaga, termasuk di luar negeri.
Teknologi memperluas cara belajar arkeologi
Dalam pendidikan, katalog interaktif dapat memperlihatkan bagaimana ilmu komputer bekerja bersama arkeologi, sejarah, seni, dan konservasi. Mahasiswa tidak hanya mempelajari bentuk artefak, tetapi juga memahami proses digitalisasi, pengelolaan data, dan keterbatasan model AI.
Data tiga dimensi juga memungkinkan objek dipelajari dari berbagai sudut tanpa selalu memindahkan benda asli. Hal ini bermanfaat bagi dokumentasi dan akses penelitian, terutama ketika artefak rapuh atau berada jauh dari kampus dan pusat riset.
Namun, penggunaan AI pada warisan budaya memerlukan kehati-hatian. Kualitas hasil sangat bergantung pada kelengkapan dataset, ketepatan dokumentasi, dan penilaian ahli. Kesamaan visual tidak otomatis membuktikan asal-usul, masa pembuatan, atau hubungan budaya tertentu.
Masih dalam tahap uji coba
BRIN telah mendaftarkan hak cipta Lalita. Aplikasi tersebut sudah dapat diakses, tetapi untuk sementara hanya melalui jaringan internal BRIN karena masih berada dalam proses pengujian dan pengembangan.
Tahap uji coba diperlukan untuk menemukan kesalahan, memperbaiki pencocokan, serta memastikan informasi yang ditampilkan dapat dipertanggungjawabkan. Akses yang lebih luas sebaiknya dibarengi penjelasan tentang tingkat kepastian hasil agar pengguna tidak menganggap keluaran AI sebagai kesimpulan final.
Pengembangan Lalita menunjukkan bentuk konkret riset lintas disiplin. Upaya serupa membutuhkan jejaring antarlembaga, seperti dibahas dalam artikel tentang kolaborasi internasional dan dampak riset Indonesia. Bagi pelajar dan mahasiswa, inovasi ini menjadi contoh bahwa teknologi dapat digunakan untuk membaca masa lalu, bukan hanya membangun produk masa depan.




