Foto: Humas Setditjen Dikti
KORAN EDUKASI — Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi mendorong perguruan tinggi kesehatan mengalihkan tolok ukur pembelajaran dari materi yang diajarkan menuju kompetensi yang benar-benar dikuasai lulusan. Pendekatan Outcome Based Education (OBE) digunakan untuk menyelaraskan kurikulum, asesmen, dan kebutuhan pelayanan kesehatan.
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Khairul Munadi menyampaikan arah tersebut saat membuka Workshop Kurikulum OBE yang diselenggarakan Himpunan Perguruan Tinggi Kesehatan Indonesia di Jakarta. Kegiatan berlangsung pada 20–21 Oktober 2026 dan diikuti pimpinan kampus, pengelola program studi, dosen, serta pemangku kepentingan.
Capaian lulusan menjadi ukuran
“Keberhasilan pendidikan perguruan tinggi tidak cukup diukur dari apa yang diajarkan, tetapi juga dari apa yang benar-benar mampu dilakukan oleh para lulusan. Fokusnya pada kemampuan dan keterampilan,” ujar Khairul Munadi.
Dalam pendidikan kesehatan, kemampuan itu mencakup penerapan pengetahuan klinis, kerja lintas profesi, pemahaman masalah kesehatan masyarakat, dan kepekaan terhadap kesenjangan akses pelayanan. Kurikulum perlu merumuskan capaian yang dapat diamati dan diukur, bukan hanya daftar materi perkuliahan.
Workshop membahas penyusunan struktur kurikulum OBE, perumusan capaian pembelajaran lulusan dan mata kuliah, pengembangan asesmen serta rubrik penilaian, hingga pengukuran hasil belajar. Keselarasan antara tujuan, proses kuliah, dan penilaian menjadi dasar untuk melihat apakah kompetensi sesuai dengan profil lulusan.
Teknologi tidak menggantikan empati
Khairul menilai perubahan teknologi dan kebutuhan pelayanan kesehatan menuntut kurikulum yang terus menyesuaikan diri. Namun, kemajuan perangkat tidak boleh menggeser nilai kemanusiaan dalam hubungan tenaga kesehatan dengan pasien dan masyarakat.
“Teknologi tidak dapat menggantikan empati dan integritas tenaga kesehatan,” tegas Khairul Munadi. Karena itu, ukuran keberhasilan kurikulum tidak berhenti pada dokumen akreditasi, tetapi juga pada dampak kompetensi lulusan dan keselamatan pasien.
Pendekatan berbasis hasil sejalan dengan kebutuhan kampus mengevaluasi lingkungan pendukung pembelajaran. Sebelumnya, program Kampus Sehat 2026 mendorong perguruan tinggi menilai kesehatan fisik, mental, gizi, lingkungan, dan pencegahan kekerasan. Keduanya menempatkan data dan hasil nyata sebagai dasar perbaikan layanan pendidikan tinggi yang dapat dievaluasi secara berkala.




