Jumat, 23 Oktober 2026
spot_img
BerandaFashionPendidikan KhususITS Buka Penerimaan Mahasiswa Disabilitas Mulai 2027

ITS Buka Penerimaan Mahasiswa Disabilitas Mulai 2027

spot_img

Foto: Esti Widiyana/detikcom

KORAN EDUKASI — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) akan membuka penerimaan calon mahasiswa penyandang disabilitas mulai 2027. Pendaftar dapat mengikuti jalur Mandiri Prestasi maupun jalur Reguler pada departemen yang telah menyatakan kesiapan menerima mahasiswa disabilitas.

Kebijakan itu disampaikan Wakil Rektor III Bidang Sumber Daya Manusia, Organisasi, dan Teknologi Sistem Informasi ITS Imam Baihaqi dalam kegiatan Inclusive Campus Implementation Academy di Auditorium Gedung Research Center ITS, Surabaya, Selasa (20/10/2026). Agenda tersebut membahas akomodasi yang layak serta kesiapan departemen berbasis kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial.

Sembilan Departemen Disiapkan

Departemen yang disebut siap meliputi Statistika, Biologi, Aktuaria, Studi Pembangunan, Manajemen Bisnis, Teknik Sistem dan Industri, Teknik Kelautan, Teknik Informatika, serta Perencanaan Wilayah dan Kota. Daftar itu memberi gambaran awal pilihan akademik yang tersedia, sedangkan persyaratan teknis penerimaan perlu mengikuti pengumuman resmi ITS ketika pendaftaran dibuka.

Pembukaan dua jalur tersebut memperluas akses dari tahap seleksi, tetapi kesiapan kampus tidak berhenti pada penerimaan. ITS juga mempercepat pemenuhan fasilitas inklusif agar mahasiswa dapat mengikuti perkuliahan dan aktivitas kampus dengan dukungan yang sesuai kebutuhannya.

Langkah tersebut relevan bagi calon mahasiswa yang tengah memetakan pilihan perguruan tinggi untuk 2027. Informasi jalur dan fasilitas perlu dibaca bersama ketentuan setiap program studi, seperti halnya skema penerimaan khusus lain yang sebelumnya dibuka kampus, termasuk program Golden Ticket UM 2027.

Empat Unsur Kampus Inklusif

Tim Ahli Pusat Layanan Difabel Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Rofah menjelaskan empat unsur yang perlu diperhatikan dalam membangun kampus inklusif, yakni pola pikir, tanggung jawab, penganggaran, dan layanan. “Institusi perlu untuk membuat kebijakan yang mengikutsertakan dan mendukung mahasiswa disabilitas dari segi fasilitas hingga pengajaran,” ujarnya.

Rofah juga menyoroti kebutuhan teknologi bantu dalam pembelajaran. ITS diharapkan dapat memanfaatkan kekuatan riset teknologinya untuk mempercepat pengembangan perangkat pendukung yang sesuai dengan ragam kebutuhan mahasiswa disabilitas.

Founder dan Chair Advocacy for Disability Inclusion Foundation Yustitia M. Arief menekankan bahwa hambatan disabilitas juga terbentuk oleh lingkungan, mulai dari stigma hingga fasilitas fisik yang tidak aksesibel. Karena itu, kesiapan departemen perlu berjalan seiring dengan perbaikan layanan, ruang belajar, teknologi, serta budaya kampus yang menghormati mahasiswa disabilitas.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Koran Edukasi

spot_img