Kamis, 5 November 2026
spot_img
BerandaEdu NewsAkademisi Temukan Indikasi AI pada 90 Persen Naskah Siswa

Akademisi Temukan Indikasi AI pada 90 Persen Naskah Siswa

spot_img

Foto: magnific

KORAN EDUKASI — Akademisi dan penulis asal Sulawesi Selatan Anis Kurniawan menemukan indikasi penggunaan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) pada sekitar 90 persen dari 40 naskah lomba novel dan cerita pendek tingkat siswa yang dinilainya di Makassar.

Temuan itu disampaikan dalam Seminar Literasi bertajuk “Menjaga Jiwa dalam Aksara” pada Minggu, 1 November 2026. Kegiatan tersebut diikuti 108 guru dan 370 siswa sekolah menengah atas se-Kota Makassar.

Menurut Anis Kurniawan, pola kalimat yang seragam, pesan moral yang kaku, dan bahasa normatif menjadi tanda yang muncul pada banyak naskah. Indikasi tersebut merupakan hasil pengamatan penjurian, bukan ukuran nasional mengenai penggunaan AI oleh seluruh siswa Indonesia.

AI Dinilai Harus Menjadi Alat Bantu

Pendiri sekaligus Pemimpin Redaksi Klikhijau.com itu menilai AI dapat mempermudah produksi teks, tetapi penggunaan berlebihan berisiko mengurangi proses membaca, berdiskusi, dan mengembangkan gagasan secara mandiri.

“Kita akan kehilangan otentitas, kita kehilangan kejernihan,” kata Anis Kurniawan. Ia menekankan bahwa karya sastra membutuhkan waktu, kesabaran, dan pergulatan pemikiran agar memiliki kedalaman emosional.

Teknologi seperti ChatGPT dan Claude, menurut pemaparannya, sebaiknya ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti kreativitas. Prinsip yang sama berlaku ketika AI dipakai untuk mendukung pembelajaran, seperti pada gim berbasis AI untuk membantu siswa belajar matematika.

Guru Didorong Menjaga Proses Literasi

Anis Kurniawan mendorong guru Bahasa Indonesia memperkuat ekosistem bacaan berkualitas dan menyediakan ruang dialog kritis. Siswa juga dianjurkan mempertahankan kebiasaan membaca buku cetak serta berlatih menulis secara organik.

Seminar tersebut turut menyoroti cara algoritma penyaringan kolaboratif pada platform digital membentuk rekomendasi berdasarkan pola selera pengguna. Jika tidak disadari, mekanisme itu dapat membatasi perjumpaan pembaca dengan karya yang lebih beragam dan menantang.

Temuan terhadap 40 naskah memberi peringatan praktis bagi sekolah untuk menilai proses, bukan hanya hasil akhir tulisan. Pemeriksaan keaslian perlu disertai pembelajaran etika, verifikasi informasi, dan kesempatan bagi siswa untuk menjelaskan bagaimana sebuah karya disusun.

Dengan pendekatan tersebut, sekolah dapat memanfaatkan AI tanpa menghilangkan tujuan utama pembelajaran menulis: membangun kemampuan mengolah pengalaman, menyusun argumen, dan menyampaikan gagasan dengan suara yang dapat dipertanggungjawabkan.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Koran Edukasi

spot_img