Kamis, 5 November 2026
spot_img
BerandaEdu NewsSMKN 2 Jakarta Diverifikasi Jadi Adiwiyata Mandiri, Praktik Hijau Masuk Modul Ajar

SMKN 2 Jakarta Diverifikasi Jadi Adiwiyata Mandiri, Praktik Hijau Masuk Modul Ajar

spot_img

Foto: ANTARA/HO-Pemerintah Kota Jakarta Pusat

KORAN EDUKASI — SMKN 2 Jakarta Pusat menjalani verifikasi lapangan sebagai calon Sekolah Adiwiyata Mandiri 2026. Tim Kementerian Lingkungan Hidup menilai konsistensi penerapan budaya peduli lingkungan di sekolah tersebut pada Selasa (3/11/2026).

Verifikasi merupakan tahap penilaian, sehingga SMKN 2 Jakarta belum dinyatakan memperoleh predikat Adiwiyata Mandiri. Sekolah harus menunjukkan bahwa Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (PBLHS) berjalan secara berkelanjutan dan melibatkan seluruh warga sekolah.

Wakil Wali Kota Jakarta Pusat Eric PZ Lumbun mengatakan Adiwiyata bukan sekadar perlombaan atau upaya meraih piala. Program tersebut diarahkan untuk membentuk karakter peduli lingkungan serta merespons masalah perkotaan, seperti sampah, polusi udara, dan pemanasan global.

Praktik lingkungan masuk pembelajaran

Pelaksana Tugas Kepala SMKN 2 Jakarta Tri Windarti menjelaskan prinsip kepedulian lingkungan telah dimasukkan ke modul ajar dan rencana pembelajaran mata pelajaran kejuruan maupun umum. “Adiwiyata Mandiri bagi kami bukan sekadar lomba untuk mendapatkan piagam,” ujarnya.

Praktik yang diterapkan meliputi prinsip 3R—mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang—bank sampah, pengolahan sampah organik menjadi kompos, serta pembuatan cairan eco-enzyme. Sekolah juga membuat lubang biopori, taman vertikal, dan hidroponik.

Pengelolaan sumber daya mencakup pemanfaatan air hujan dan air bekas wudu serta penghematan listrik. Penerapan tersebut melibatkan siswa, guru, tenaga kependidikan, petugas kebersihan, orang tua, komite sekolah, dan mitra dunia usaha serta industri.

Membina tiga sekolah lain

SMKN 2 Jakarta turut membina SMKN 44, SMKN 19, dan SMKN 34 Jakarta melalui penyusunan modul PBLHS serta berbagi praktik pengelolaan lingkungan. Pendampingan menjadi salah satu unsur yang menunjukkan perluasan dampak program di luar sekolah calon penerima.

Pembelajaran berbasis lingkungan juga diterapkan di daerah lain, termasuk melalui integrasi geopark ke kegiatan sekolah. Perbedaan konteks menuntut sekolah menyesuaikan materi dengan persoalan lokal.

Hasil akhir verifikasi belum diumumkan. Predikat nantinya harus dipisahkan dari manfaat program: perubahan perilaku dan konsistensi praktik lingkungan tetap menjadi ukuran penting setelah proses penilaian selesai.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Koran Edukasi

spot_img