Kamis, 1 Oktober 2026
spot_img
BerandaEdu MasyarakatHari Aksara Internasional 2026: Literasi Digital dan Kecakapan Hidup Jadi Fokus

Hari Aksara Internasional 2026: Literasi Digital dan Kecakapan Hidup Jadi Fokus

spot_img

Sumber foto: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

KORAN EDUKASI — Literasi tidak lagi cukup dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis. Dalam peringatan Hari Aksara Internasional ke-60 tingkat nasional, pemerintah menekankan literasi sosial, ekonomi, lingkungan, dan teknologi sebagai bekal untuk bekerja, berkarya, serta meningkatkan kualitas hidup.

Puncak peringatan diselenggarakan di Cilacap, Jawa Tengah, pada Kamis, 24 September 2026, dan dilaporkan Kemendikdasmen pada 25 September 2026. Tema yang diangkat ialah “Literasi untuk Sesama, Semesta, dan Sejahtera”.

Dari membaca teks menuju memahami keadaan

Direktur Pendidikan Nonformal dan Pendidikan Informal Kemendikdasmen I Gusti Made Ardana menjelaskan bahwa perubahan sosial dan teknologi menuntut pemaknaan literasi yang lebih luas. Masyarakat perlu mampu memahami keadaan, memilah informasi, menggunakan teknologi secara bijak, dan mengubah pengetahuan menjadi tindakan.

Pendekatan tersebut penting karena seseorang dapat memiliki akses internet tetapi belum tentu mampu menilai kebenaran informasi, menjaga keamanan data, atau memanfaatkan layanan digital secara produktif. Di sinilah program literasi perlu bergerak dari kegiatan seremonial menuju kecakapan yang dapat digunakan sehari-hari.

Data yang disampaikan dalam kegiatan menunjukkan 75,09 persen penduduk usia lima tahun ke atas di Cilacap telah menggunakan internet. Pemerintah menilai tantangannya mulai bergeser dari sekadar akses menuju kemampuan memakai internet secara aman dan bermanfaat.

PKBM dan taman bacaan memiliki peran strategis

Penguatan literasi juga diarahkan melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat, Sanggar Kegiatan Belajar, taman bacaan, lembaga kursus, keluarga, komunitas, serta dunia usaha. Jaringan ini penting untuk menjangkau warga yang tidak selalu terlayani oleh pendidikan formal.

PKBM dapat menjadi ruang belajar bagi anak tidak sekolah, orang dewasa yang ingin meningkatkan kecakapan, serta masyarakat yang membutuhkan pelatihan praktis. Agar efektif, materi perlu disesuaikan dengan kebutuhan lokal, misalnya literasi keuangan keluarga, pemasaran digital usaha kecil, pengelolaan lingkungan, atau keamanan informasi.

Kemendikdasmen menyebut revitalisasi satuan pendidikan dan digitalisasi pembelajaran sebagai bagian dari upaya literasi. Namun, penyediaan perangkat perlu diikuti pendampingan, konten yang relevan, dan kemampuan pendidik membimbing peserta belajar.

Literasi perlu menghasilkan perubahan yang terukur

Gerakan literasi dapat dinilai dari perubahan perilaku, bukan hanya jumlah kegiatan. Contohnya adalah kemampuan warga mengenali penipuan digital, memahami informasi kesehatan, membuat keputusan keuangan, atau menggunakan pengetahuan untuk memperbaiki pekerjaan.

Di sekolah, literasi lintas bidang dapat dikembangkan melalui bacaan yang dihubungkan dengan persoalan nyata. Hasil PISA 2025 Indonesia juga mengingatkan bahwa kemampuan membaca perlu diarahkan pada pemahaman, penalaran, dan penggunaan informasi.

Peringatan Hari Aksara Internasional menjadi momentum untuk memperluas kesempatan belajar sepanjang hayat. Tantangan berikutnya ialah memastikan gerakan tersebut menjangkau kelompok yang paling membutuhkan dan memberi kecakapan yang benar-benar meningkatkan kemandirian.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Koran Edukasi

spot_img