Foto: Tim GTK/Kemendikdasmen
KORAN EDUKASI — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah membekali guru dan tenaga kependidikan di empat provinsi dengan keterampilan kesiapsiagaan serta pemulihan pascabencana. Pelatihan tatap muka digelar di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Nusa Tenggara Timur dengan melibatkan unit pelaksana teknis kementerian.
Program tersebut memuat dua materi utama, yakni kesiapsiagaan bencana bagi pendidik dan tenaga kependidikan serta layanan dukungan psikososial pascabencana. Peserta mempelajari tindakan sebelum, saat, dan setelah bencana, mulai dari mitigasi, prosedur keselamatan, hingga pendampingan warga sekolah yang terdampak.
Materi pelatihan dikembangkan bersama Save the Children dan Himpunan Psikologi Indonesia. Kemendikdasmen menempatkan kesadaran terhadap risiko bencana sebagai bagian dari kompetensi guru karena keselamatan murid dan keberlangsungan pembelajaran bergantung pada kesiapan satuan pendidikan.
Prosedur Keselamatan Harus Dilatih
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Nunuk Suryani menekankan bahwa kesiapsiagaan perlu dibangun sebelum bencana terjadi. Guru harus memahami mitigasi, bertindak tenang dalam keadaan darurat, dan menyesuaikan pendampingan dengan kebutuhan murid.
Sekolah juga perlu memastikan jalur evakuasi, titik kumpul, dan prosedur keselamatan diketahui seluruh warga sekolah serta dilatih secara berkala. Perencanaan harus memperhitungkan murid yang membutuhkan pendampingan khusus agar tidak ada yang tertinggal.
Perlengkapan darurat seperti air minum, makanan tahan lama, obat pribadi, alat penerangan, sarana komunikasi, dan dokumen penting perlu disiapkan dalam tas siaga. Isinya harus diperiksa secara berkala agar tetap dapat digunakan ketika dibutuhkan.
Pemulihan Psikologis Guru dan Murid
Kesiapsiagaan tidak berhenti pada evakuasi. Layanan dukungan psikososial dibutuhkan untuk membantu murid dan guru memulihkan kondisi psikologis setelah bencana. Guru yang menjadi pendamping juga dapat menjadi korban dan membutuhkan ruang pemulihan.
Kemendikdasmen telah mengembangkan Modul Kesiapsiagaan Bencana dan Modul Layanan Dukungan Psikososial Pascabencana sebagai sumber belajar bagi pendidik. Sekolah dapat menyesuaikan penerapannya dengan risiko dan kebutuhan setempat.
Penguatan ini relevan di tengah kebijakan pembelajaran jarak jauh akibat bencana lingkungan di sejumlah daerah, seperti PJJ sekolah di Padang karena kabut asap. Rencana tindakan yang jelas membantu sekolah menjaga keselamatan sekaligus keberlanjutan pembelajaran.




