Foto: Dok. Istimewa/Media Indonesia
KORAN EDUKASI — Sebanyak 10 guru penggerak inovasi digital dan 10 tim siswa sekolah menengah kejuruan menerima penghargaan dalam Jagoan Hosting Innovation Competition (JHIC) 2026. Kompetisi tersebut menggabungkan pembelajaran, pendampingan, pengembangan proyek, dan final untuk memperkuat talenta digital dari lingkungan sekolah.
Lima tim siswa meraih penghargaan kategori Web Development dan lima tim lainnya pada kategori Business Plan. Penghargaan untuk guru diberikan kepada pendidik yang memanfaatkan teknologi untuk mendukung pembelajaran dan pengembangan inovasi di sekolah.
Program tersebut didukung Kementerian Komunikasi dan Digital serta melibatkan Ngalup.co sebagai mitra penyelenggara. Kegiatan ini diarahkan untuk mendukung kebutuhan talenta digital nasional yang ditargetkan mencapai 12 juta orang pada 2030.
Proyek Berangkat dari Masalah Nyata
Direktur Jagoan Hosting Andy Novianto menjelaskan bahwa kompetisi dirancang sebagai ruang belajar berbasis proyek. “Kami ingin peserta berani mengembangkan ide, menguji solusi, sekaligus mendapatkan pengalaman yang relevan dengan kebutuhan industri,” ujar Andy Novianto.
Pada kategori Web Development, peserta ditantang membangun situs dengan memanfaatkan teknologi digital. Kategori Business Plan meminta siswa merancang gagasan usaha yang memiliki nilai dan menjawab persoalan tertentu.
Fokus kompetisi tidak dibatasi pada peserta yang telah memiliki dasar teknologi informasi. Kreativitas, kemampuan melihat masalah, dan kemauan mengembangkan solusi juga dinilai sebagai bagian penting dari talenta digital.
Guru Menjadi Penggerak Inovasi
Kategori Penggerak Inovasi Digital menempatkan guru sebagai bagian dari transformasi. Pengalaman mengikuti pelatihan dan proyek diharapkan dapat dibawa kembali ke sekolah untuk memperluas pembelajaran teknologi.
Peserta memperoleh kesempatan meningkatkan keterampilan teknis, kemampuan memecahkan masalah, dan jejaring dengan profesional industri. Model ini menghubungkan dunia sekolah, industri, dan pemerintah dalam pengembangan kompetensi.
Penguatan literasi digital tetap perlu disertai etika dan kemampuan berpikir kritis. Hal itu sejalan dengan dorongan agar guru membimbing siswa menggunakan AI tanpa mengabaikan proses berpikir.




