Foto: Medcom.id/Adinda Kinanthi
KORAN EDUKASI — Platform Sekolah Enuma memperluas akses pembelajaran digital melalui kerja sama dengan pemerintah daerah dan integrasi konten ke Rumah Pendidikan milik Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Perusahaan melaporkan programnya telah digunakan oleh 36 ribu siswa di 844 sekolah selama lima tahun pengembangan.
Direktur Enuma Indonesia Juli Adrian mengatakan kolaborasi telah dibangun dengan 12 pemerintah kabupaten dan kota. “Selama lima tahun ini, kami sudah berhasil bekerja sama dengan 12 pemerintah daerah, baik pemerintah kota maupun kabupaten,” ujarnya di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Daerah mitra itu meliputi Mimika, Nagekeo, Raja Ampat, Ketapang, Balikpapan, Barito Selatan, Singkawang, Lombok Tengah, Makassar, Sidenreng Rappang, Manggarai, dan Subang. Dukungan pemerintah daerah dipandang penting karena implementasi program berlangsung di sekolah dan komunitas dengan kebutuhan yang berbeda.
Jangkauan dilaporkan mencapai 844 sekolah
Menurut data yang disampaikan Enuma Indonesia, 36 ribu siswa di 844 sekolah telah menggunakan platform tersebut. Sebarannya disebut membentang dari Deli Serdang di bagian barat, Malinau di utara, hingga Sumbawa di selatan.
Pengembangan program memperoleh dukungan Korea International Cooperation Agency (KOICA). Enuma juga bekerja dengan 11 mitra bisnis untuk membantu distribusi dan penerapan program di berbagai daerah. Angka jangkauan tersebut merupakan laporan penyelenggara dan tidak dengan sendirinya menunjukkan hasil belajar siswa.
Konten masuk ke Rumah Pendidikan
Sekolah Enuma juga bergabung dalam ekosistem Rumah Pendidikan Kemendikdasmen melalui program Mikro Pembangunan. Integrasi ini membuka jalur agar guru dan sekolah dapat mengakses konten pembelajaran digital melalui layanan kementerian.
Juli mengakui jumlah konten yang tersedia di Rumah Pendidikan masih perlu ditambah. Karena itu, tahap berikutnya tidak hanya menyangkut perluasan pengguna, tetapi juga kelengkapan materi yang dapat dimanfaatkan guru dan murid sesuai kebutuhan pembelajaran.
Digitalisasi pendidikan tidak berhenti pada penyediaan aplikasi. Sekolah tetap memerlukan perangkat, koneksi, pendampingan guru, dan evaluasi penggunaan agar konten benar-benar mendukung pembelajaran. Kebutuhan pendampingan serupa terlihat dalam pelatihan kecerdasan buatan generatif untuk pendidik.
Kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, KOICA, dan mitra pelaksana memberi jalur distribusi yang lebih luas. Namun, keberhasilan program tetap perlu dinilai melalui pemanfaatan aktif, relevansi materi, serta perubahan proses belajar di sekolah penerima.




