Minggu, 1 November 2026
spot_img
BerandaEdu NewsSekolah Natuna Masukkan Geopark ke Pembelajaran dan Kegiatan Siswa

Sekolah Natuna Masukkan Geopark ke Pembelajaran dan Kegiatan Siswa

spot_img

Foto: Muhamad Nurman/ANTARA

KORAN EDUKASI — Pemerintah Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, melibatkan satuan pendidikan dalam pelestarian Geopark Nasional Natuna. Sekolah diarahkan mengenalkan keragaman geologi, hayati, dan budaya melalui pembelajaran, kegiatan siswa, serta kunjungan edukatif ke sejumlah geosite.

Kebijakan tersebut dituangkan dalam Surat Edaran Nomor 400.3.1/338/DISDIKBUD-UP1/X/2026 tentang Sosialisasi dan Pengenalan Geopark Nasional Natuna di Lingkungan Satuan Pendidikan. Pelaksanaannya disesuaikan dengan kemampuan dan konteks masing-masing sekolah.

Pengenalan geopark dapat dimasukkan melalui pembiasaan harian, upacara bendera, masa pengenalan lingkungan sekolah, serta mata pelajaran yang relevan. Sekolah juga didorong mengembangkan kegiatan ekstrakurikuler, kokurikuler, dan muatan lokal bertema geopark.

Tiga unsur geopark dipelajari siswa

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Natuna Ilham Kauli menjelaskan, geopark memuat keragaman geologi, keragaman hayati, dan keragaman budaya. “Kita tidak hanya melihat, tetapi juga bisa menjaga dan melestarikan,” ujarnya.

Pendekatan tersebut memungkinkan siswa mempelajari lingkungan dari kondisi nyata di daerahnya. Kunjungan ke geosite dapat menghubungkan materi sains, geografi, sejarah, dan budaya dengan objek yang dapat diamati langsung.

Program sekolah juga menjadi bagian dari dukungan pemerintah daerah terhadap upaya Geopark Nasional Natuna memperoleh pengakuan UNESCO Global Geopark. Meski demikian, kegiatan pendidikan perlu tetap berorientasi pada pemahaman dan pelestarian, bukan sekadar memenuhi agenda pengakuan.

Pawai budaya melibatkan 320 siswa

Salah satu pelaksanaannya dilakukan SD Negeri 007 Ranai Darat melalui pawai budaya pada 31 Oktober 2026. Sebanyak 320 siswa dari 15 kelas mengikuti kegiatan dengan mengenakan pakaian adat dan busana yang menggambarkan berbagai profesi masyarakat lokal.

Pawai dimulai dari halaman sekolah, melewati Masjid Ibnu Salim Ranai Darat, lalu kembali ke sekolah. Kegiatan tersebut digunakan untuk mengenalkan budaya daerah sekaligus membangun sikap menghargai guru, orang tua, teman, dan keragaman masyarakat.

Pembelajaran berbasis lingkungan ini sejalan dengan upaya menghadirkan materi sains yang dekat dengan kehidupan murid. Koran Edukasi sebelumnya mengulas buku Amerta yang mengajak murid belajar sains sambil menjaga air. Konteks lokal membuat materi lebih mudah dipahami murid.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Koran Edukasi

spot_img