Senin, 19 Oktober 2026
spot_img
BerandaEdu NewsKemdiktisaintek Petakan Kendala Riset Papua, dari Akses Jurnal hingga Logistik Sampel

Kemdiktisaintek Petakan Kendala Riset Papua, dari Akses Jurnal hingga Logistik Sampel

spot_img

Foto: Kemdiktisaintek

KORAN EDUKASI — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi memetakan sejumlah hambatan yang dihadapi peneliti dan perguruan tinggi di Papua, mulai dari keterbatasan akses jurnal ilmiah berbayar hingga logistik pengiriman sampel kesehatan. Pemetaan dilakukan dalam rangkaian Pelatihan Penulisan Artikel Ilmiah Nasional Batch 4 di Universitas Muhammadiyah Sorong, Papua Barat Daya, pada 13–16 Oktober 2026.

Pelatihan tersebut diarahkan untuk membantu dosen dan peneliti menyusun hasil penelitian menjadi publikasi ilmiah yang bermutu. Kegiatan di Sorong juga dimaksudkan untuk memperluas akses pengembangan talenta riset di kawasan timur Indonesia, agar penelitian yang lahir semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Kebutuhan daerah menjadi titik awal riset

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Fauzan Adziman menekankan bahwa riset tidak seharusnya berhenti pada penerbitan artikel. Penelitian perlu berangkat dari persoalan masyarakat, termasuk kebutuhan industri, lalu kembali memberi manfaat kepada masyarakat melalui penerapan hasilnya.

“Jadi, riset dimulai dari masyarakat, kita pahami masyarakat itu termasuk industri, dan kemudian kembali ke masyarakat,” ujar Fauzan Adziman dalam keterangan kementerian yang diterbitkan 18 Oktober 2026.

Dialog bersama perguruan tinggi di Sorong mengangkat bidang pertanian, ketahanan pangan, kesehatan, dan inklusi penyandang disabilitas. Para peserta juga menyampaikan kebutuhan pelatihan penyusunan proposal, pendampingan publikasi, serta dukungan untuk membawa hasil penelitian menuju tahap pemanfaatan.

Skema pendanaan disiapkan

Salah satu kendala teknis yang dibahas ialah pengiriman sampel serum menggunakan dry ice dari Sorong ke kota lain seperti Makassar dan Surabaya. Persoalan itu menunjukkan bahwa penguatan riset daerah tidak hanya membutuhkan peningkatan kapasitas peneliti, tetapi juga fasilitas dan rantai logistik yang sesuai.

Kemdiktisaintek menyebut dukungan dapat dijajaki melalui skema penelitian dasar, pengabdian kepada masyarakat, fasilitas riset, kemitraan, hilirisasi, dan komersialisasi. Program pendanaan terkait dijadwalkan diluncurkan dalam Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia di Surabaya pada 10–13 November 2026.

Pemetaan ini melengkapi agenda penguatan kolaborasi riset dan pengembangan sumber daya manusia yang sebelumnya dijalankan kementerian. Tantangannya kini adalah memastikan skema tersebut benar-benar dapat diakses kampus di kawasan timur sesuai kebutuhan lapangan.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Koran Edukasi

spot_img