Foto: ANTARA/HO-Kemdiktisaintek
KORAN EDUKASI — Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan meminta perguruan tinggi tidak berhenti pada reputasi akademik, tetapi mengukur dampak kepakaran dosen, hasil penelitian, dan sumber daya kampus terhadap persoalan nyata di masyarakat.
Dalam keterangan di Jakarta, Selasa (20/10), Fauzan mengatakan transformasi pendidikan tinggi perlu mengubah cara kampus menjalankan mandat. Perguruan tinggi didorong memperkuat tata kelola, mengintegrasikan tridarma, dan menempatkan diri sebagai mitra pembangunan.
“Perguruan tinggi perlu mengevaluasi sejauh mana kepakaran dosen, hasil penelitian, dan sumber daya kampus telah menjawab kebutuhan masyarakat di sekitarnya,” kata Fauzan.
Menjembatani kampus dan kebutuhan ekonomi
Menurut Fauzan, gedung yang megah, jumlah guru besar, dan reputasi akademik perlu diikuti kontribusi yang dirasakan masyarakat. Perhatian terutama perlu diarahkan kepada kelompok yang masih menghadapi kemiskinan dan keterbatasan akses pendidikan.
Ia menyoroti tiga kesenjangan yang perlu dijembatani, yakni hubungan pendidikan tinggi dengan kebutuhan ekonomi, kompetensi lulusan dengan tuntutan dunia kerja, serta hasil penelitian dengan pemanfaatannya oleh industri. Kerja sama kampus dengan pemerintah daerah, dunia usaha, dan dunia industri menjadi salah satu jalur yang ditawarkan.
“Pembelajaran juga perlu semakin adaptif agar mahasiswa mampu menerapkan pengetahuan untuk menyelesaikan persoalan nyata,” ujar Fauzan. Pengetahuan dan kompetensi akademik, lanjutnya, perlu berjalan bersama karakter, kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian menghadapi masalah.
Riset diarahkan menjadi solusi
Arah tersebut menempatkan kegiatan akademik sebagai bagian dari ekosistem sosial dan ekonomi. Fauzan mencontohkan wisuda dapat dirancang agar memberi manfaat lebih luas apabila dilaksanakan di wilayah yang membutuhkan penguatan ekonomi lokal sekaligus pengenalan pendidikan tinggi.
Perguruan tinggi juga didorong mengembangkan solusi berbasis riset bersama pemerintah daerah dan mitra lain. Orientasi itu melengkapi agenda penguatan mutu dan inovasi mahasiswa yang terlihat dalam Kompetisi Jembatan Indonesia dan Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia 2026.
Pesan tersebut menegaskan bahwa ukuran keberhasilan kampus tidak hanya berada pada keluaran administratif atau peringkat. Dampak perlu terlihat pada pemecahan masalah, peningkatan kompetensi lulusan, pemanfaatan penelitian, dan perluasan akses masyarakat terhadap manfaat pendidikan tinggi.





[…] Wamen Fauzan Minta Kampus Ukur Dampak Riset bagi Masyarakat […]