Kamis, 1 Oktober 2026
spot_img
BerandaEdu NewsCalon Guru UPH Belajar Puisi Esai untuk Membaca Isu Perundungan di Sekolah

Calon Guru UPH Belajar Puisi Esai untuk Membaca Isu Perundungan di Sekolah

spot_img

Foto: Istimewa

KORAN EDUKASI — Tiga puluh mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Teachers College Universitas Pelita Harapan mengikuti pelatihan penulisan puisi esai bertema “Dari Calon Guru, Tumbuh Generasi Penulis”. Kegiatan ini diarahkan untuk mengembangkan kemampuan menulis sekaligus kepekaan terhadap persoalan kemanusiaan.

Pelatihan digelar bersama Denny JA Foundation di Kampus UPH. Mahasiswa diperkenalkan pada puisi esai sebagai karya yang mempertemukan fakta, imajinasi, dan bahasa puitik untuk membaca pengalaman manusia.

Perundungan dibaca melalui karya sastra

Salah satu karya yang dibacakan membahas pengalaman anak yang menjadi korban perundungan. Materi tersebut dipilih untuk mengajak calon guru mengenali penderitaan yang kerap tersembunyi dan memahami pentingnya ruang belajar yang membuat setiap siswa merasa diterima.

Bagi calon pendidik, sastra dapat menjadi cara untuk melatih empati sekaligus keterampilan membaca konteks sosial. Guru Bahasa Indonesia tidak hanya mengajarkan bentuk dan gaya bahasa, tetapi juga dapat membantu siswa mendiskusikan pengalaman, konflik, serta nilai kemanusiaan secara bertanggung jawab.

Belajar riset sebelum menulis

Peserta mempelajari cara menggali ide, melakukan riset sederhana, menentukan tokoh dan konflik, serta mengolah realitas menjadi narasi puitik. Praktik menulis dan umpan balik menjadi bagian dari pelatihan dengan penekanan pada ketepatan fakta dan penghormatan terhadap subjek.

Pendekatan itu penting ketika karya sastra memakai pengalaman nyata. Penulis perlu membedakan fakta dan imajinasi, menghindari eksploitasi penderitaan, serta menjaga identitas pihak rentan bila informasi tersebut dapat menimbulkan dampak buruk.

Karya direncanakan menjadi antologi digital

Pendampingan direncanakan berlanjut melalui pertemuan daring dan grup komunikasi. Karya yang lolos kurasi serta penyuntingan akan dihimpun dalam antologi digital dan diproses untuk memperoleh ISBN.

Hasil akhir berupa buku dapat menjadi tujuan yang memotivasi peserta, tetapi proses refleksi pedagogis tetap sama pentingnya. Mahasiswa perlu menilai bagaimana metode kreatif tersebut nantinya dapat diterapkan di kelas dengan aman, inklusif, dan sesuai usia siswa.

Kepekaan calon guru juga perlu disertai kemampuan berpikir terstruktur. Praktik lain yang dapat menjadi rujukan ialah pembelajaran berpikir komputasional bagi murid di Kudus, yang menunjukkan bahwa kreativitas dan penalaran dapat dikembangkan secara berdampingan.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Koran Edukasi

spot_img