Foto: ANTARA/HO-Humas Kemendikdasmen
KORAN EDUKASI — Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat mendorong perluasan penggunaan Bahasa Indonesia di Rusia melalui program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), pertukaran akademik, dan penerjemahan karya sastra. Dorongan itu disampaikan saat membuka Kongres Bahasa Indonesia kedua di National Research University Higher School of Economics, Rusia.
Kegiatan yang diberitakan pada 31 Oktober 2026 tersebut diselenggarakan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Moskow dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda. Forum mempertemukan akademisi, mahasiswa, pegiat bahasa, serta pihak yang terlibat dalam hubungan pendidikan dan kebudayaan Indonesia-Rusia.
Atip Latipulhayat menilai pengajaran bahasa menjadi pintu masuk untuk memperkuat hubungan antarmasyarakat. Internasionalisasi Bahasa Indonesia tidak hanya berkaitan dengan jumlah pembelajar, tetapi juga dengan ketersediaan pengajar, bahan ajar, kajian ilmiah, dan ruang pemakaian yang berkelanjutan.
BIPA menjadi jalur utama
Program BIPA dipandang sebagai instrumen utama untuk mengenalkan Bahasa Indonesia kepada warga asing. Melalui kelas yang terstruktur, pembelajar dapat memahami bahasa sekaligus konteks sosial dan budaya Indonesia.
Pengembangan program di Rusia dapat diperkuat melalui kemitraan antarkampus, mobilitas mahasiswa dan dosen, serta penelitian bersama. Pertukaran akademik memberi kesempatan kepada pembelajar untuk menggunakan Bahasa Indonesia dalam kegiatan ilmiah dan interaksi sehari-hari.
Penerjemahan karya sastra juga menjadi bagian penting. Karya yang tersedia dalam bahasa Rusia dapat memperluas akses pembaca terhadap pengalaman, sejarah, dan keragaman budaya Indonesia, sementara penerjemahan karya Rusia ke Bahasa Indonesia memperkaya hubungan dua arah.
Status internasional perlu diikuti ekosistem pembelajaran
Bahasa Indonesia telah ditetapkan sebagai salah satu bahasa resmi Sidang Umum UNESCO pada November 2023. Status tersebut memperkuat posisi Bahasa Indonesia di tingkat internasional, tetapi pengaruhnya memerlukan tindak lanjut berupa pengajaran, diplomasi budaya, dan produksi pengetahuan.
Kongres di Rusia menjadi ruang untuk mengevaluasi kebutuhan pembelajar dan peluang kerja sama kelembagaan. Keberlanjutan program bergantung pada konsistensi kelas, kompetensi pengajar, dukungan bahan ajar, serta jaringan lembaga pendidikan di kedua negara.
Upaya ini melengkapi target jangka panjang yang pernah dibahas Koran Edukasi mengenai Bahasa Indonesia menuju bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2045. Pencapaian target tersebut memerlukan penguatan penggunaan nyata di luar negeri, bukan hanya pengakuan formal.




