Jumat, 23 Oktober 2026
spot_img
BerandaEdu NewsKemdiktisaintek Terapkan Sistem Coupling untuk Selaraskan Kinerja Kampus

Kemdiktisaintek Terapkan Sistem Coupling untuk Selaraskan Kinerja Kampus

spot_img

Foto: Humas Kemdiktisaintek

KORAN EDUKASI — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong perguruan tinggi memperkuat tata kelola berbasis kinerja dan data. Salah satu pendekatan yang disiapkan ialah sistem coupling untuk menyelaraskan kontrak kinerja di tingkat direktorat jenderal dengan target para rektor.

Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek Badri Munir Sukoco menyampaikan kebijakan itu dalam Bimbingan Teknis Nasional pada 20 Oktober 2026. Penyelarasan ditujukan agar program kementerian tidak berhenti sebagai agenda administratif, tetapi dapat diterjemahkan menjadi langkah terukur di tingkat kampus.

Kontrak kinerja disambungkan

“Kita melakukan sistem namanya coupling. Coupling itu maksudnya kontrak dengan para Direktur Jenderal (Dirjen) ada, kontrak dengan para Rektor ada. Jadi, program-program yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal (Ditjen), semuanya akan diagregat di level kampus, kemudian diangkat di level Ditjen,” ujar Badri Munir Sukoco.

Dalam rancangan tersebut, target dari kementerian dan perguruan tinggi tidak berjalan pada jalur terpisah. Program serta indikator kinerja kampus dihimpun dan dihubungkan dengan capaian direktorat jenderal, sehingga kemajuan maupun hambatan dapat dibaca dalam satu kerangka evaluasi.

Pemantauan akan didukung dasbor kinerja. Kemdiktisaintek menilai penggunaan data diperlukan untuk melihat perkembangan program, mengukur capaian target, dan menyediakan dasar pengambilan keputusan yang lebih berbasis bukti.

Akses, dosen, dan dampak sosial

Penguatan tata kelola juga dikaitkan dengan perluasan akses pendidikan tinggi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Kualifikasi dosen pada jenjang doktor menjadi salah satu perhatian karena berhubungan dengan kapasitas akademik serta mutu riset perguruan tinggi.

Kementerian meminta kampus membaca dampak pendidikan tinggi secara lebih luas, meliputi aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Dengan demikian, indikator kinerja tidak hanya mencatat aktivitas pendidikan dan penelitian, tetapi juga manfaat yang benar-benar diterima masyarakat.

Arah tersebut sejalan dengan pesan pemerintah agar kampus mengukur hasil kerjanya di luar lingkungan akademik. Dalam pemberitaan sebelumnya, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan meminta perguruan tinggi mengukur dampak riset bagi masyarakat. Sistem coupling dan dasbor kinerja menjadi instrumen manajerial untuk menindaklanjuti tuntutan itu secara terukur.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Koran Edukasi

spot_img