Minggu, 11 Oktober 2026
spot_img
BerandaLifestyleSD SMP SMA SMK UniversitasEdunusa Hadirkan AI Tanpa Internet untuk Siswa Wilayah 3T, Server Ditempatkan di...

Edunusa Hadirkan AI Tanpa Internet untuk Siswa Wilayah 3T, Server Ditempatkan di Sekolah

spot_img

Foto: Cicin Yulianti/detikcom

KORAN EDUKASI — Telkom University bersama AirNav Indonesia memperkenalkan Edunusa, sistem kecerdasan buatan yang dirancang membantu pembelajaran siswa sekolah dasar di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar tanpa bergantung pada koneksi internet.

Teknologi itu diperkenalkan dalam Summit on Advancement in Technology, Research, Industry and Academia 2026 di Jakarta pada 8 Oktober. Edunusa memakai server lokal yang ditempatkan di sekolah atau wilayah sasaran sehingga materi dapat diakses ketika jaringan internet terbatas.

Materi disimpan pada server lokal

Direktur Center of Excellence Artificial Intelligence, Machine Learning and Optimization Telkom University Agus Pratondo menjelaskan bahwa pengiriman dosen atau pelatih ke daerah terpencil membutuhkan biaya logistik tinggi dan hanya berlangsung dalam waktu terbatas.

Model server lokal memungkinkan pengetahuan dan bahan belajar disimpan di lokasi. Pembaruan materi dilakukan di pusat ketika koneksi tersedia, kemudian dikirim ke wilayah sasaran agar guru dan murid dapat terus menggunakannya.

Selain mengurangi ketergantungan pada sinyal, sistem tertutup disebut dapat membatasi paparan siswa terhadap konten negatif di internet terbuka. Meski demikian, penerapannya tetap membutuhkan pengelolaan perangkat, pembaruan konten, dan pendampingan guru agar materi sesuai kebutuhan belajar.

AI diarahkan memancing proses berpikir

Edunusa menggunakan pendekatan sokratis yang tidak langsung memberikan jawaban akhir. Sistem dirancang mengajak siswa melalui dialog bertahap untuk memahami konsep, termasuk ketika mempelajari matematika.

Direktur Teknik AirNav Indonesia Zainal Arifin Harahap menekankan bahwa pengembangan teknologi perlu berangkat dari kebutuhan pengguna. “Kami tidak ingin teknologi dikembangkan hanya karena teknologinya ada. Yang paling penting adalah apakah ini memang dibutuhkan dan membantu pekerjaan kita,” ujar Zainal Arifin Harahap.

Selain Edunusa, kolaborasi tersebut memperkenalkan Mediciana untuk mahasiswa kedokteran dan kerangka Safe AI Maturity Level Assessment untuk menilai kesiapan serta etika penerapan kecerdasan buatan di institusi.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Muhammad Fauzan Adziman menilai inovasi itu berkaitan dengan upaya meningkatkan partisipasi pendidikan di wilayah 3T. Kementerian juga membuka kemungkinan dukungan pendanaan bagi perguruan tinggi untuk pengembangan inovasi.

Pemanfaatan Edunusa masih perlu dilihat dari hasil penerapannya di sekolah, termasuk ketersediaan perangkat, kompetensi pendamping, kualitas materi, dan dampaknya terhadap pembelajaran. Pendekatan dialogisnya sejalan dengan upaya menguatkan cara berpikir komputasional dan pemecahan masalah murid, tetapi teknologi tetap berfungsi sebagai alat bantu guru.

RELATED ARTICLES

1 KOMENTAR

Komentar ditutup.

- Advertisment -spot_img

Koran Edukasi

spot_img