Foto: Dok. Istimewa/Media Indonesia
KORAN EDUKASI — Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie mengingatkan bahwa penggunaan kecerdasan buatan di sekolah tidak boleh menghilangkan keterlibatan siswa dalam proses berpikir. Teknologi perlu ditempatkan sebagai alat bantu yang tetap menuntut murid memahami masalah, memeriksa informasi, dan menilai hasil yang diberikan sistem AI.
Pesan itu disampaikan dalam Redea International Conference ke-16 di Jakarta pada 8–9 Oktober 2026. Pertemuan bertema Guardians of the Future: Sustainably Impactful and Future-Driven School tersebut membahas ekosistem sekolah yang adaptif, berkelanjutan, dan berorientasi pada kesejahteraan manusia.
Stella Christie merujuk data Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) 2026. Dalam paparan itu, siswa yang memakai AI setiap hari atau hampir setiap hari disebut memiliki rata-rata skor sains lebih rendah daripada siswa yang tidak pernah atau hampir tidak pernah menggunakannya.
Guru perlu menempatkan siswa sebagai pengendali
Temuan yang dipaparkan itu tidak membuktikan bahwa setiap penggunaan AI menyebabkan penurunan hasil belajar. Namun, data tersebut menjadi peringatan bahwa frekuensi pemakaian teknologi harus dibaca bersama kualitas aktivitas belajar dan keterlibatan kognitif siswa.
“Guru seharusnya tidak sekadar mengajarkan cara menggunakan AI, tetapi mengajarkan agar posisi murid di masa depan tidak bisa digantikan AI,” ujar Stella Christie.
Menurut dia, kemampuan mengevaluasi keluaran AI secara kritis perlu menjadi bagian dari pembelajaran. Dengan begitu, siswa tidak hanya memperoleh jawaban cepat, melainkan juga belajar memeriksa ketepatan, sumber, logika, dan keterbatasan informasi.
Ekosistem sekolah perlu terus belajar
Pendiri dan CEO Redea Institute Antarina S.F. Amir menekankan pentingnya keputusan berbasis bukti, peningkatan kompetensi guru, dan keterlibatan aktif siswa. Ketiga unsur itu dipandang perlu berjalan bersama agar penggunaan teknologi tetap memiliki tujuan pendidikan yang jelas.
Pendekatan tersebut juga relevan dengan pengembangan AI pembelajaran tanpa internet untuk sekolah di wilayah 3T. Ketersediaan perangkat dan konektivitas memang menentukan akses, tetapi mutu belajar tetap bergantung pada desain aktivitas, pendampingan guru, dan kesempatan siswa mengolah informasi secara mandiri.
Konferensi turut mengangkat keterampilan yang diproyeksikan penting pada 2030, termasuk kelincahan, pembelajaran sepanjang hayat, dan kreativitas. Sekolah dengan demikian menghadapi dua pekerjaan sekaligus: memperluas literasi AI dan memastikan teknologi tidak mengambil alih latihan berpikir yang seharusnya dilakukan siswa.




