Kamis, 5 November 2026
spot_img
BerandaEdu NewsMengajar dan Mengasuh Anak, Fildza Lulus Doktor UGM dengan IPK 4,00

Mengajar dan Mengasuh Anak, Fildza Lulus Doktor UGM dengan IPK 4,00

spot_img

Foto: UGM

KORAN EDUKASI — Fildza Huwaina Fathnin menuntaskan program doktor Ilmu Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan indeks prestasi kumulatif 4,00 sambil menjalankan peran sebagai dosen dan mengasuh anak.

Ia menjadi salah satu dari 54 lulusan dengan IPK tertinggi dalam wisuda program pascasarjana UGM. Rata-rata IPK 270 lulusan program doktor pada periode tersebut tercatat 3,86.

Fildza memulai studi doktor ketika anaknya berusia dua bulan. Pada saat bersamaan, ia mengajar di Universitas Islam Sultan Agung, Semarang, sehingga harus membagi perjalanan antara Semarang dan Yogyakarta.

Jadwal Terencana Membantu Menjalani Tiga Peran

Jadwal perkuliahan yang relatif terencana membantu Fildza mengatur waktu mengajar, belajar, dan mendampingi keluarga. Ia membagi target jangka panjang menjadi pekerjaan mingguan agar perkembangan disertasi tetap terjaga.

“Setiap minggu saya selalu berusaha membuka tugas akhir,” ujar Fildza. Ia biasanya menulis pada dini hari selama satu sampai satu setengah jam setelah beribadah dan sebelum pekerjaan lain dimulai.

Strategi tersebut tidak menghilangkan seluruh hambatan. Penyelesaian disertasi sempat tertunda dua bulan ketika ibunya sakit dan harus menjalani operasi besar. Fildza kembali melanjutkan pekerjaan akademik setelah kondisi mentalnya membaik.

Tujuh Penolakan Jurnal Tidak Menghentikan Riset

Fildza juga menghadapi tujuh penolakan ketika mengirim hasil penelitian ke jurnal bereputasi. Proses revisi dan pengajuan ulang akhirnya menghasilkan empat manuskrip penelitian selama masa studinya.

Pengalaman itu menunjukkan bahwa IPK tinggi bukan satu-satunya bagian dari perjalanan doktoral. Ketahanan menghadapi penolakan, konsistensi menulis, dukungan keluarga, dan pengelolaan waktu menjadi unsur yang turut menentukan penyelesaian studi.

Kisah Fildza menambah ragam perjalanan lulusan doktor, termasuk peneliti BRIN yang menyelesaikan doktor pada usia 61 tahun. Latar belakang berbeda menghasilkan tantangan akademik dan keluarga yang tidak sama.

Setelah lulus, Fildza tetap menjalankan tugas sebagai dosen. Ia ingin meningkatkan kualitas pengajaran, menghasilkan penelitian yang berdampak, dan memperluas pengabdian kepada masyarakat sesuai bidang keilmuannya. Pencapaian akademik itu menjadi awal tanggung jawab baru dalam pendidikan, penelitian, dan pelayanan kepada masyarakat.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Koran Edukasi

spot_img