Kamis, 5 November 2026
spot_img
BerandaEdu NewsRiset Karhutla Dibuka Januari 2027, Proposal Diarahkan Jadi Produk Terapan

Riset Karhutla Dibuka Januari 2027, Proposal Diarahkan Jadi Produk Terapan

spot_img

Foto: Nikita Rosa/detikEdu

KORAN EDUKASI — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menyiapkan pembukaan call for proposal riset kebakaran hutan dan lahan dalam Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026.

Pendaftaran akan diperkenalkan dalam KSTI di Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, pada 11–13 November 2026. Penelitian yang lolos ditargetkan mulai berjalan pada Januari 2027.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Fauzan Adziman mengatakan penelitian diarahkan mendukung penanganan karhutla. “Kita akan membuka riset yang akan kita mulai nanti, di bulan Januari tahun depan,” ujarnya.

Hasil Riset Diminta Menjadi Produk yang Digunakan

Kemdiktisaintek ingin proposal tidak berhenti pada laporan akademik. Penelitian perlu dikembangkan menjadi produk atau teknologi yang mempunyai pengguna jelas, termasuk pemerintah kabupaten, kota, dan provinsi di wilayah rawan kebakaran.

Kerja sama dengan pemerintah daerah diperlukan untuk memetakan kebutuhan lapangan, menguji solusi, dan memastikan hasil riset dapat digunakan. Pendekatan itu sejalan dengan pengujian inovasi untuk krisis iklim dan kesehatan yang menilai dampak melalui penerapan langsung.

Kementerian belum mengumumkan nilai pendanaan, jumlah proposal yang diterima, bidang keilmuan yang diprioritaskan, maupun syarat rinci peneliti. Informasi tersebut perlu menunggu dokumen resmi ketika pendaftaran dibuka.

Karakter Lahan Menentukan Teknologi Pemadaman

Fauzan Adziman menjelaskan efektivitas teknologi penanganan bergantung pada karakter kebakaran. Water bombing dinilai masih dapat digunakan pada lahan non-gambut, sedangkan kebakaran gambut lebih kompleks karena api dapat menjalar di permukaan dan lapisan bawah tanah.

Bara yang tersimpan di bawah permukaan dapat bertahan meskipun bagian atas telah disiram. Kondisi tersebut menunjukkan kebutuhan riset yang mencakup deteksi sumber api, pemadaman lapisan bawah, pencegahan berulang, serta pemantauan pascakebakaran.

Penanganan karhutla juga melibatkan penegakan hukum, tata kelola lahan, dan kesiapan pemerintah daerah. Karena itu, produk penelitian perlu ditempatkan sebagai salah satu bagian dari strategi yang lebih luas, bukan satu-satunya solusi.

Pembukaan proposal pada November menjadi tahap awal. Keberhasilan program baru dapat dinilai setelah skema seleksi, pendanaan, pelaksanaan riset, serta pemanfaatan hasilnya diumumkan dan dijalankan pada 2027.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Koran Edukasi

spot_img