Foto: ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/foc.
KORAN EDUKASI — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyebut Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga berpotensi mendorong kehadiran murid di sekolah dan membangun kebiasaan positif.
Pernyataan itu disampaikan dalam keterangan di Jakarta, Minggu, 1 November 2026, setelah penandatanganan perjanjian kerja sama Badan Gizi Nasional (BGN) dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Kerja sama tersebut mencakup dukungan pelaksanaan MBG di satuan pendidikan.
“Jadi banyak anak yang berangkat ke sekolah itu karena akan makan sehat bergizi,” ujar Abdul Mu’ti. Ia merujuk pada penelitian mengenai hubungan pemberian makanan di sekolah dengan tingkat kehadiran, tetapi keterangan tersebut tidak memerinci studi maupun besaran perubahan kehadirannya.
MBG sebagai Media Pendidikan Karakter
Selain aspek gizi dan kehadiran, sekolah didorong memanfaatkan waktu makan sebagai bagian dari pendidikan karakter. Praktiknya mencakup mengantre dengan tertib, menjaga kebersihan, berdoa sebelum dan sesudah makan, serta menghargai makanan yang disajikan.
Pembiasaan itu membutuhkan pengaturan waktu, fasilitas pendukung, dan pendampingan guru agar tidak berhenti sebagai rutinitas pembagian makanan. Pelaksanaan di sekolah juga harus tetap memperhatikan keamanan pangan dan ketepatan sasaran.
Kolaborasi BGN dan Kemendikdasmen sebelumnya menempatkan MBG dalam dukungan program pendidikan. Koran Edukasi juga mencatat langkah penguatan rantai pasok melalui pemanfaatan Sistem Informasi Pengadaan di Sekolah untuk kebutuhan lokal MBG.
Data Penerima Terhubung dengan Dapodik
Abdul Mu’ti mengatakan pendataan penerima MBG di lingkungan pendidikan telah diintegrasikan dengan Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Integrasi tersebut terus disempurnakan untuk memastikan penerima merupakan murid yang resmi tercatat dalam sistem pendidikan.
Kepala BGN Sudaryono mengapresiasi dukungan Kemendikdasmen. Bagi sekolah, penyelarasan data menjadi penting untuk mengurangi kesalahan sasaran sekaligus membantu perencanaan jumlah porsi dan pelaksanaan harian.
Klaim mengenai peningkatan kehadiran masih perlu dibaca sebagai potensi program, bukan hasil nasional yang telah terukur. Evaluasi berkala dibutuhkan untuk membedakan pengaruh MBG dari faktor lain seperti kondisi keluarga, akses transportasi, kesehatan, dan lingkungan belajar.




